<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-19123921</id><updated>2011-04-21T11:52:58.177-07:00</updated><title type='text'>andriyani</title><subtitle type='html'>curahan-kata-hati</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://st-andriyani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://st-andriyani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>St. Andriyani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10427718984849925804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i28.photobucket.com/albums/c250/tamansurga/images2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19123921.post-113241281152720234</id><published>2005-11-19T07:04:00.000-08:00</published><updated>2005-11-19T07:06:57.453-08:00</updated><title type='text'>Kisah Duka Pernikahan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bagi pasangan muda yang baru menikah, menjalani kehidupan rumah tangga ibarat mengarungi samudra kenikmatan. Dunia seperti milik berdua, orang lain dianggap mengontrak saja.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh Siti Andriyani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                Ternyata semua itu hanya khayalan kita saja. Buktinya, bisa sebaliknya. Pernikahan bisa membawa luka yang menyakitkan. Bahkan amat menyakitkan.&lt;br /&gt;                Setidaknya itulah pengakuan Lusi, 21 tahun, (yang minta namanya disamarkan) mahasiswa Sastra Inggris anggatan 2001. Meski dalam kesehariannya seperti tak memiliki masalah. Namun Lusi sebenarnya punya masalah serius. Akibat kegagalan rumah tangga yang dibangunnya 2 tahun lalu, trauma masih menggantung dibenaknya.&lt;br /&gt;Seperti pagi itu, Lusi tampak berbincang-bincang akrab dengan temannya, di panggung timur Fakultas Sastra. Mereka mengobrol asyik sekali. Sesekali tawa mereka berdua berderai.&lt;br /&gt;                Saat ditemui dan ditanyakan perihal pernikahannya, raut muka Lusi seketika berubah. Lusi berusaha tegar. Memang, menurut Lusi, tak banyak yang tahu kalau dirinya telah menikah. Kalaupun teman-temannya tahu, mereka pun tak akan mengetahui jika dirinya mempunyai masalah besar. Status janda tengah menantinya. Artinya rumah tangganya diambang perceraian.&lt;br /&gt;                Ketika diminta menceritakan pernuiakahannya, dengan raut muka serius Lusi pun berkisah.&lt;br /&gt;Dua tahun sudah ia menjalani rumah tangga yang bisa dibilang sulit. Suaminya hidup di pulau seberang yang dipisahkan laut Jawa. Sebagai pasangan muda yang rela menjalani rumah tangga jarak jauh, Lusi mencoba tabah. Dulu komitmen mereka berdua akan selalu mengukuhkan hubungan dalam sebuah pernikahan. Namun akhirnya setelah Lusi mengajukan cerai keduanya tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;                Kehidupan rumah tangga Lusi terbilang unik. Kisah pertemuannya dengan suaminya pun terjadi di Kalimantan Timur. Tepatnaya ketika Lusi duduk di kelas dua SMU. Pertemauannya dengan Herman (yang sekarang ini masih berstatus sebagai suaminya) berawal ketika temannya memperkenalkannya di tempat kursus komputer. Saat itu status Herman masih kuliah tingkat akhir. Dari perkenalan itu berlanjut menjadi hubungan kasih. Herman yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur menunjukkan keseriusannya dengan membicarakan masalah pernikahan setelah hubungannya dengan Lusi sudah berjalan selama satu tahun. Akhirnya mereka sepakat menikah pada 2 Mei dua tahun lalu.&lt;br /&gt;                “ Bukannya ada sesuatu yang mengharuskan untuk segera menikah tapi kami sudah pacaran selama satu tahun dan saya pikir sama saja menikah saat itu ataupun nanti. Toh kami sudah saling mencintai,” ucapnya beralasan. Praktis Lusi menikah dengan Herman ketika masih berstatus siswa kelas tiga SMU. Dan Herman masih sebagai mahasiswa yang tengah menyelesaikan skripsi.&lt;br /&gt;                Awalnya kedua orang tua tak mengizinkan. Apalagi menikah di usia muda memang bukan keputusan mudah. Tapi itulah langkah yang diambil keduanya. Ibaaratnya, cinta bergejolak hebat layaknya Laut Jawa.&lt;br /&gt;Akhirnya mereka pun memutuskan menikah. Alasannya sederhana saja, tak mau kehilangan satu sama lain. “Cukup klise memang kedengarannya tapi itulah kenyataannya. Keputusan untuk menikah sempat ditentang oleh kedua orang tuaku mengingat usiaku yang masih muda tapi aku berhasil meyakinkan orang tuaku bahwa aku bisa menjalaninya dengan baik,”jelasnya.&lt;br /&gt;                Impian memang tak semudah kenyataan. Usai menikah, Lusi diterima kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Undip Semarang. Artinya, Lusi harus berpisah dengan suaminya yang berada di Kalimantan Timur. Namun dua tahun menjalani pernikaahan jarak jauh membuat merekah lelah. Apalagi usia mereka yang masih muda memicu keinginan untuk saaling menang sendiri. Ego telah menguasai keinginan masing-masing.&lt;br /&gt;“Suamiku menghendaki agar saya kuliah di Universitas Mulawarman saja dan kami menjalani kehidupan rumah tangga seperti lainnya. Tapi saya tetap ingin melanjutkan kuliaah di Undip dan saya menyarankan supaya dia saja yang pindah dan bekerja disini. Dia tetap pada pemdiriannya dengan alasan dia sudah mendapatkan pekerjaan yang baik dan terikat kontrak,”tambahnya.&lt;br /&gt;                Kelanjutannya? Dengan raut muka sedih dia menjelaskan bahwa mereka tidak bisa disatukan kembali. “Saat ini saya sedang mengurus perceraiam kami. Saya telah mengajukan surat cerai di pengadilan Solo. Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Siapa sih yang tidak ingin mempertahankan rumah tangga. Saya sudah berusaha tapi hasilnya nihil,”ucapnya.&lt;br /&gt;                Lusi juga menjelaskan bahwa kegagalan bahwa kegagalan rumah tangganya tidak dikarenakan oarang ketiga. “Tidak ada orang ketiga dari pihak saya tapi tidak tahu kalau kalau dari pihak suami saya. Yang jelas bukan karena orang ketiga alasan kami mengakhiri pernikahan ini. Dalam pergaulan pun saya membatasi bergaul dengan cowok mengingat status saya yang telah menikah,”ungkapnya.&lt;br /&gt;                Tampaknya, menurut Lusi, rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan lagi. Apalagi keduanya telah sepakat untuk bercerai, “Kami sudah bicara panjang lebar dan jalan satu-satunya adalah berpisah. Paman saya yang mengurus perceraian saya ini. Dan saya tidak tahu apakah permohonan cerai saya dapat dilakukan di Solo mengingat pernikahan saya dilaksanakan di Kalimantan. Saya mengajukan cerai di Solo karena keluargaku terdekat disana,”jelasnya.&lt;br /&gt;                Mengenai keputusannya untuk bercerai, orang tua Lusi seperti menyerahkan urusan itu  padanya. Begitu juga dengan orang tua Herman. Jika itu keputusan terbaik mereka setuju saja.&lt;br /&gt;                “Kecewakah Lusi? “ Tidak menjadi masalah bagia saya,”ucapnya dengan tegar. “Dulu saya tidak berpikir panjang apa resiko pernikahan dengan kondisi seperti ini. Tapi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” tambahnya menenangkan diri.&lt;br /&gt;                Memang tak semuanya pernikahan di usia muda rawan perceraian. Tapi menurut Lusi ada baiknya dipikir masak-masak. “Berpijak pada pengalamanku sendiri sebaiknya mereka yang ingin menikah di usia muda dipikir dulu deh. Kesiapan mental dan materi juga dibutuhkan,”sarannya. Lusi tetap mengaku kegagalan rumah tanggatak perlu disesali terus menerus.&lt;br /&gt;                “Perasaan sedih itu pasti ada tapi kalau dibilang tidak juga karena selama ini meskipun sudah menikah tapi kami hidup terpisah. Mengenai untuk menikah lagi saya belum terpikir kearah sana apalagi masalah ini juga belum beres. Mungkin suatu saat nanti jika saaya telah menemukan pasangan hidup tidak menutup kemungkinan untuk menikah lagi. Jika saya telah resmi bercerai saya tidak akan terganggu dengan predikat janda,”cerita Lusi. Itu merupakan resiko dan saya tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu karena saya masih muda dan jalan hidup masih panjang,”tambahnya seraya menutup perbincangan.&lt;br /&gt;                Bebearapa saat kemudian Lusi telah kembali berbincang akrab dengan teman-temannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19123921-113241281152720234?l=st-andriyani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://st-andriyani.blogspot.com/feeds/113241281152720234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19123921&amp;postID=113241281152720234' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113241281152720234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113241281152720234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://st-andriyani.blogspot.com/2005/11/kisah-duka-pernikahan.html' title='Kisah Duka Pernikahan'/><author><name>St. Andriyani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10427718984849925804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i28.photobucket.com/albums/c250/tamansurga/images2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19123921.post-113241258132781589</id><published>2005-11-19T06:47:00.000-08:00</published><updated>2005-11-19T07:03:01.363-08:00</updated><title type='text'>Menunggu Detik-detik Pelelangan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Hotel bersejarah milik BUMN di Semarang akan segera dijual ke swasta. Beberapa karyawan terancam kehilangan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh Andriyani&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;PAGI mulai beranjak siang. Terik matahari pagi mulai memancarkan sinar ultra violetnya. Sebuah mobil Daihatsu berwarna orange berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang terletak disekitar pengujung jalan Pemuda. Tepatnya di jalan Pemuda nomor 11. Bangunan itu berdiri membentuk sudut 25 derajat menghadap ke arah pasar Johar, sebuah pasar tua yang terletak di sekitar kompleks Kota Lama Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya turun dari angkot yang berisi beberapa orang panitia dan barang-barang peralatan dan perlengkapan yang diangkut dari kampus Sastra Universitas Diponegoro. Mata saya terbelalak. Terkejut. “Tak semegah yang saya bayangkan”, gumamku lirih. Bangunan itu tampak tua dengan dua lantai. Di bagian tengahnya terdapat tulisan “Hotel Dibya Puri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya masih tertuju pada kain putih yang memanjang terletak dilantai dua sayap barat hotel. “SELMAT DATANG PESERTA WORKSHOP NASIONAL JURNALISME SASTRAWI PERS MAHASISWA” bunyi tulisan yang menempel pada spanduk putih itu. Tulisan itu terdiri dari dua baris. Sebuah kegiatan besar akan diadakan di sini selama hampir satu minggu ke depan mulai tanggal 7 Februari sampai dengan tanggal 12 Februari 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMASUKI pintu utama hotel, sentuhan arsitektur bangunan khas zaman pendudukan Belanda begitu terasa. Desain interiornya sebagian besar juga masih mempertahankan bangunan asal. Dindingnya masih terlihat kokoh dengan cat warna krem yang redup. Beberapa bagian dinding dan langit-langit tampak mengelupas. Tebal dinding itu lebih dari tiga puluh sentimeter. Pilar-pilar besar dan tinggi menyangga bangunan ini.  Masing-masing dilapisi kayu berwarna coklat gelap. Di ruang lobby ini tertata rapi beberapa meja lengkap dengan kursi-kursi yang melingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di front office, seorang laki-laki paroh baya sedang melayani tamu. Hari itu beberapa tamu yang datang kebanyakan adalah para peserta workshop. Saya menuju lobby ditemani oleh beberapa panitia. Seorang laki-laki tua menyambut kami dengan ramah. Sebagian besar karyawan hotel rata-rata telah berusia diatas empat puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi mbak, ada yang bisa kami bantu”, sapanya ramah.&lt;br /&gt;Ia menyodorkan selembar kertas yang berisi daftar nama para peserta setelah tahu keperluan saya..&lt;br /&gt;“Kita kemana pak?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Ke lantai dua. Lewat tangga itu”, jawabnya seraya menunjuk pada sebuah tangga yang berada di samping lobby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuju tangga dan mengajak kami naik ke lantai dua. Kami mengikutinya. Anak tangga itu berlantai marmer. Warnanya putih dengan motif garis-garis warna hitam, sama seperti lantai di ruang lobby. Ubin marmer itu cukup besar sekitar 60 centimeter persegi. Dinding tangga  terbuat dari kayu dilapisi kuningan yang dihiasi ukir-ukiran. Warnanya yang pudar membuat ukiran itu tampak tidak jelas. Di bagian atasnya, sebuah besi berwarna kuning pudar membujur menyusuri bagian atas dinding tangga. Bentuknya mirip pipa. Lampu bulat menancap menghias di ujung dinding tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba di kamar nomor 168. “Kalau ada apa-apa hubungi saya di bawah”, ia tersenyum. Keriput diwajahnya seketika tersembunyi oleh senyum ramahnya. Tak lama kemudian ia pamitan. “Benar-benar bangunan tua”, gumamku ketika melihat kamar yang disediakan. Kamar itu berukuran sekitar 4x4 meter. Di dalamnya terdapat tiga dipan kayu lengkap dengan kasur dan sprei warna putih. Di atasnya menggantung sebuah kipas angin. Sebuah lemari kayu berada di sudut kamar, kemudian TV 21 Inch berada disebelahnya melengkapi fasilitas kamar ini. Sayang kamar mandi berada di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar saya berada di sayap timur hotel. Tiga kamar menghadap ke arah jalan Pemuda. Salah satunya adalah kamar saya. Satu kamar diujung sayap bangunan sebelah timur tampak tidak dihuni. Kamar itu berhadapan dengan ruang yang terletak dibangunan utama. Pada kaca depan tertulis “Vision Net”. Ruang ini rupanya tempat untuk mengakses internet bagi para pengunjung. Tarif per jamnya enam ribu rupiah. Ada empat buah komputer diruang ber AC itu.&lt;br /&gt;Di halaman depan hotel dihiasi taman dan pepohonan. “Dulunya pohon-pohon di depan hotel ini besar-besar”, kata salah seorang karyawan hotel yang sedang sibuk membersihkan lantai di depan kamar. Saat ini memang terlihat hanya satu pohon besar yang rindang dan selebihnya tanaman hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak tiga buah meja berpayung dengan cat berwarna merah yang sudah mulai luntur. Tulisan ‘Sosro’ berwarna putih masih terlihat samar-samar. Beberapa kursi lipat dari besi melingkarinya. Di samping kanan terdapat taman kecil dengan dasar rumput yang halus. Di tengahnya tampak bekas kolam air muncrat yang sudah tidak berfungsi lagi. Di halaman sebelah barat berderet beberapa kendaraan beroda dua sedang parkir. Tanaman yang cukup tinggi, sekitar tiga meter, menyembul menjadi pagar pembatas halaman bagian barat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana  di jalan raya depan hotel sangat ramai. Maklum disini pusat kegiatan ekonomi berlangsung. Beberapa orang tampak lalu lalang menyeberangi jembatan layang yang berada di depan hotel ini. Keberadaan jembatan layang itu menghalangi pandangan ke bangunan hotel dari seberang jalan. Selain pasar Johar, beberapa kompleks pertokoan berjejer di sepanjang jalan Pemuda. Dibelakang kompleks pertokoan tersebut tampak sebuah atap sebuah masjid Agung Kauman. Warga Semarang biasa menyapanya dengan masjid Yaik Johar. Masjid ini merupakan masjid tertua di Semarang. Sekitar abad XVI masjid ini didirikan.                 Pandangan saya kemudian beralih pada seberang timur jalan raya. Sebuah bangunan berdiri megah. Hotel Metro. Hotel berbintang tiga dengan desain bangunan modern. Amat kontras bila dibandingkan hotel Dibya puri yang masih bertahan dengan bangunan warisan kompeni yang telah berumur lebih dari 150 tahun. &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;PUKUL 13.00. Suasana yang semula sepi berubah menjadi ramai. Para peserta sudah berdatangan. Termasuk dua orang peserta sekamar saya. Menurut informasi yang saya dapat dari panitia tiga puluh peserta yang berasal dari pengelola pers mahasiswa se-Indonesia bakal ikut dalam kegiatan ini.&lt;br /&gt;Kali ini bukan hanya karyawan dan panitia yang sebelumnya tampak mondar-mandir, peserta workshop mulai memadati lobby. Satu per satu mengambil makanan ringan dan teh. Mereka tampak belum saling mengenal. Meski ada sebagian yang sudah. Saya pun demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Suasananya asyik”, ujar salah seorang peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak saya kembali mengamati ruangan ini. Sungguh eksotik. Bangunan yang telah berdiri selama ratusan tahun itu masih berdiri dengan kokoh. Di ujung dinding ruang lobby sebelah tangga kiri terpampang lima foto hotel Dibya Puri dan sebuah cukilan sejarah bangunan hotel itu di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;TAHUN I847. Sebuah villa bergaya Eropa didirikan di daerah Bojong.  Sebelumnya, hotel Jansen telah berdiri di Heeren Sraat, sekarang disebut jalan Let. Jen Suprapto. Saat itu hotel Jansen merupakan hotel satu-satunya di Semarang. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh pemilik villa untuk menyewakan villanya sebagai losmen. Seperti bangunan-bangunan Belanda pada umumnya, villa berlantai dua ini dibuat dengan sentuhan klasik khas Eropa. Pilar-pilar besar menjadi ciri khas bangunannya. Pada bagian atap bangunan berbentuk pelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seiring perjalanan waktu, tahun 1883 villa yang diberi nama Du Pavillon ini mengalami penambahan pada sayap bagian kanan dan kiri. Bangunan utama masih tetap, tidak mengalami perubahan. Pada tahun 1892 dibuat kesepakatan  pembagian saham untuk menunjang pembangunan hotel. Surat tersebut tercatat pada tanggal 4 Maret 1892. Peranannya semakin berarti ketika stasiun Tawang diselesaikan pada tahun 1913. Saat itu terjadi ketergantungan antara Du Pavillon dan stasiun Tawang. Didepan hotel yang dulunya bernama jalan Bojong terdapat perlintasan kereta api. Namun dalam perkembangannya, kereta api tidak lagi beroperasi di jalan Bojong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel ini telah mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1914 menjelang pekan raya Semarang digelar. Sayap pada bangunan utama masih seperti sebelumnya.  Namun kedua ujungnya ditambah menara beratap piramida. Pilar-pilar besar dari bata diganti dengan kolom langsing dari besi. Selanjutnya status losmen berganti menjadi hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Du pavillon juga menjadi saksi sejarah perjuangan pemuda Semarang. Tahun 1945 terjadi pertempuran sengit antara pemuda Semarang dengan penjajah Jepang. Peristiwa itu dikenal sebagai pertempuran lima hari di Semarang. Warga Semarang memperingatinya setiap tiba tanggal 14 Oktober. Hotel ini digunakan oleh pemuda Semarang sebagai markas pertahanan. Akibatnya hotel mengalami kerusakan pada dinding dan tembok. Pertempuran itu berakhir dengan perundingan untuk menghentikan gencatan senjata. Lobby  hotel menjadi tempat perundingan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N. V Semandy, pemilik Du Pavillon, menyerahkan hotel ini kepada pemerintah Indonesia bertepatan tanggal 9 Desember 1957.  Manajemen hotel dipegang oleh perusahaan perkebunan negara dibawah Departemen Pertanian. Nama hotel pun diganti dengan “Dibya Puri” yang berarti bangunan yang kokoh. Tanggal 28 Desember 1960 manajemen hotel dilimpahkan kepada Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata. Beberapa hotel tua milik Belanda berjumlah 18 buah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Jumlah ini sudah termasuk hotel Dibya Puri. Selanjutnya, hotel-hotel itu dikelola oleh PT Natour (National Hotel and Tourism Corporation ltd). PT Natour adalah Perseroan Terbatas milik pemerintah. &lt;br /&gt;Tahun 1964 diadakan renovasi kembali yang mengubah façade bangunan inti. Busur-busur pada bagian tersebut dihilangkan dan serambi depan dimanfaatkan untuk perluasan ruang. Pada saat yang bersamaan, sebagian area yang berbatasan dengan Jalan Imam Bonjol dijual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Status hukum dari PT. Natour diubah menjadi perseroan negara, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersamaan dengan dikeluarkannya akte menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwiasata tanggal 14 Februari 1976 No 26.&lt;br /&gt;Dari awal berdirinya hingga saat ini, hotel Dibya Puri telah mengalami beberapa kali renovasi. Bentuk bangunan yang sekarang adalah perkembangan dari bangunan asli. Bangunan utama yang terletak didepan masih dengan dua menara pada kedua ujungnya. Tipe menara ini bisa dilihat juga pada villa Italia akhir abad 19. Bangunan utama juga mengalami penambahan. Sebuah bangunan yang berbentuk persegi panjang dan bersekat ditengahnya diletakkan didepan bangunan utama. Bangunan ini dibuat hingga melebihi bangunan utama. Tulisan Hotel Dibya Puri diletakkan di tengah bangunan tambahan tadi. Diatasnya terdapat spanduk yang bertuliskan “Mie jowo, Bir jowo, Nasi goreng jowo”. Makanan dan minuman khas hotel Dibya Puri ini bisa ditemukan pada saat menjelang malam. Gerobag mie jowo diletakkan di depan hotel. Tambahan bangunan pada bagian bawah berbentuk seperti koridor dengan atap zig zag. Yang menarik adalah pilar yang menyangganya dibuat miring ke depan. Di tengah-tengah antara pilar satu dengan lainnya terdapat lampu bulat gantung yang berjumlah tiga buah.  Antara pilar dengan pintu masuk di pasang lampu neon yang berjumlah empat buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap bangunan pada bagian timur masih ada. Akan tetapi sayap bangunan pada bagian barat sudah tidak tampak lagi. Bangunan itu dijual pada tahun 1987 dan dibongkar pada tahun 2002 (baca:        ). Terusan dari sayap barat masih masih menjadi milik Dibya Puri. Bangunan itu menempati areal belakang hotel dan juga berlantai dua seperti bangunan Dibya Puri yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Atap bangunan hotel masih berbentuk pelana dengan konstruksi kuda-kuda. Pintu dan jendela terbuat dari kayu, sebagian berpanel kaca dan sebagian berkrepyak. AC yang dipajang disetiap kamar sudah tidak difungsikan lagi. Sebagai gantinya dipasang kipas angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ruangan dan kamar yang sudah tidak dipakai. Misalnya pada bagian atas Puri Agung, yang sekarang menjadi restoran. Sebidang ruangan berisi lima kamar saling berhadapan. Kamar-kamar itu tampak kotor dan tidak terurus. Diantara kamar-kamar itu di ditutupi papan triplek yang penuh debu. Bila penutup itu di buka, pada zaman dulu penghuni kamar akan bisa melihat pemandangan kerumunan orang yang sedang berdansa di lantai satu yang sekarang dijadikan restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan ruang yang tidak dipakai itu, tiga ruangan masih terlihat apik. Tiga ruangan itu bernama awalan Puri. Puri Sari dan Puri Asri biasa digunakan untuk ruang seminar berskala 60-an orang. Di sebelahnya, berhadapan dengan bangunan yang tidak terpakai tadi, berdiri Puri Megah. Ruang ini biasa dipakai untuk seminar berskala lebih besar. Ruang ini bisa menampung sekitar 80 orang. Semuanya masih digunakan. Sebidang lahan terbuka berbentuk persegi berukuran sekitar 10 x 6 meter berada di antara Puri Sari dan Puri Megah dan bangunan yang tidak terurus itu. Sekelilingnya dipagari kayu dengan tinggi diatas rata-rata dada orang dewasa. Dari sini tamu akan bisa melihat pemandangan ruang lobby yang berada di lantai satu.&lt;br /&gt;Bagian lain yang tidak terpakai adalah bangunan hotel bagian belakang. Dibelakang hotel dulunya terdapat pintu untuk keluar masuk kendaraan tamu namun sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Bangunan belakang sekarang menjadi gudang. Terlihat tumpukan barang-barang dan juga mesin yang tidak terpakai lagi. Ada lagi bangunan disampingnya yang dipakai sebagai gudang. “Dulu ruangan itu untuk laundry”, ujar Amir, karyawan restoran seraya menunjuk ke ruangan tersebut. Dia pun mengantar saya kesana. Sangat kotor dan berdebu. Kasur-kasur yang tidak terpakai bertumpukan. Di pojok ruangan tersebut terdapat alat untuk laundry yang masih sederhana. Sebuah papan dengan bentuk zig zag. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibya Puri mempunyai 49 kamar yang masih terpakai. 2 kamar family, 6 puri suite, 17 kamar moderate, 9 kamar standard, 5 kamar economy AC, 10 kamar economy non AC. Sedangkan kamar yang tidak terpakai karena sudah rusak ada lima berada di atas restoran. Selain itu ada ruang-ruang yang tidak terpakai di sebelah kamar-kamar yang disewakan.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;JUMAT, 11 Februari 2004 menjelang jam 12.00. Seorang laki-laki tua tengah berjalan menuju ruang house keeping. Sebuah ruangan untuk menaruh kain dan sprei kotor. Saya menghampirinya. Ia tersenyum dan mempersilakan saya duduk. Ruangan yang berada dibelakang hotel ini tampak tidak terurus. Dari ruangan inilah terdapat tangga untuk naik ke lantai dua bagian sayap barat hotel. Di ruang ini terdapat sebuah meja kerja. Di ruang sebelahnya, terlihat tumpukan sprei dan kain-kain yang kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Sulis. Karyawan asal Ambarawa, Jawa Tengah, ini sehari-harinya bekerja sebagai room boy. Pekerjaannya mengambil sprei di kamar tamu yang sudah kotor untuk dicuci di ruang house keeping ini. Dia bekerja 8 jam dalam sehari. Jam 07.00-15.00 WIB. atau jam 14.00-22.00. Kadang ia harus dua kali bekerja bila rekan kerjanya tidak masuk. Bolak-balik dari bagian satu ke bagian lainnya dan naik turun tangga sudah menjadi kebiasaan pekerjaannya. “Meskipun berat tapi di hati senang”, aku bapak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1980 ia memulai karirnya. Dengan berbekal ijazah SMA, ia melamar sebagai karyawan hotel Dibya Puri. Dua tahun kemudian ia berkenalan dengan seorang gadis yang berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Selang satu tahun kemudian ia menyunting gadis idamannya itu dan mengajaknya menetap di Tegalsari, Semarang. Bambang Sulis dan istrinya dikaruniai dua orang anak. Anaknya yang pertama bekerja di PT Astra Kalimantan sedangkan yang bungsu masih di bangku SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun usianya sekitar lima puluhan, kalau saya taksir, tapi ia tetap bersemangat dan bertahan sampai sekarang. “Seperti saya ini, pendidikannya tanggung kalo untuk mencari pekerjaan yang lain,” ujarnya memberi alasan. Di tempat kerjanya ini ia mengaku mendapatkan suasana kerja yang nyaman. Suasana kekeluargaan dan teman-teman yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUKUL 14.00. Ruang lobby tampak sepi. Hanya dua-tiga peserta yang sedang ngobrol disana. “Kamu nggak ikut ke Kota Lama? Temen-temen lain sudah berangkat sekitar tiga puluh menit yang lalu”, tanya salah seorang peserta padaku. Tak jauh dari mereka, seorang wanita paroh baya tengah meletakkan sebuah dorongan tempat makanan disamping meja hidangan dan memindahkan tempat sisa makanan kedalamnya.  Saya menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan senyum dan sapaan yang ramah, ia mengambil piring dan gelas yang telah digunakan di meja peserta. Ia membersihkan meja dan segera membawa piring-piring kotor tersebut ke dalam kitchen. Pekerjaan itu dilakukannya ketika waktu makan pagi dan makan malam.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;“Kapan ibu mulai kerja disini?” saya memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;“Tahun 1979,” jawabnya dengan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sembari mempersilakan saya duduk, ia melanjutkan cerita. “Pertama saya disini sebagai operator kemudian rolling ke reception, accounting, kitchen, linen, dan sekarang di bagian restoran”, lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Amini, nama karyawati yang bekerja di restoran Dibya Puri tersebut. Dia bekerja di Dibya Puri sudah hampir 26 tahun. Satu tahun lebih lama dari Bambang Sulis. Tapi pekerjaannya disini tidak membuatnya jenuh. Seperti Sulis, ia juga merasakan keakraban dan kekeluargaan di hotel ini. Selain merasa cocok dengan pekerjaan yang dijalaninya dia juga menaruh harapan bahwa dengan bekerja disini akan mendapatkan pensiunan di hari tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramahannya dalam melayani tamu membuatnya bisa menikmati pekerjaannya tersebut.  “Saya belum pernah dimarahi oleh tamu. Meskipun ada tamu yang galak tapi saya layani dengan baik. Mereka pun bersikap sama”, ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya dia mau meneruskan pekerjaannya siang itu. Dia pun pamit dan beranjak pergi ke kitchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI FRONT OFFICE, tampak seorang laki-laki sedang berdiri di pinggir meja. Seperti kebanyakan karyawan disini, usianya juga sudah separo baya. Berbeda dari karyawan yang lain, yang hampir seluruhnya mengenakan seragam bermotif batik. Ia memakai seragam polos dengan warna merah muda. Tak lama kemudian,  Kriiing…..kriiiing……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat sore, dengan Dibya Puri”. Ia menjawab telepon dan terjadi percakapan beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kino nama laki-laki itu. Pria berusia 45 tahun itu masuk hotel ini tahun 1977. Dia melayani tamu yang akan check in dan check out. Selain itu, ia juga memberikan informasi yang dibutuhkan oleh tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 28 tahun bekerja, Kino cukup senang dengan pekerjaannya sekarang. “Hubungan kekeluargaannya itu lho mbak”, dia beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJELANG senja. Saya dan beberapa teman peserta berniat untuk melihat pemandangan di sekitar hotel. Seorang laki-laki setengah tua duduk di depan pos satpam. Ia mengenakan seragam batik orange. Rupanya dia sedang asyik ngobrol dengan temannya.  Kami menghampiri pos satpam untuk meminta izin meninggalkan hotel sejenak. Terjadi percakapan sejenak dengan Sudarsono, nama lelaki itu. Dia seorang bell boy di hotel Dibya Puri. Sore itu dia duduk-duduk di depan karena sedang istirahat sebentar. “Mumpung belum ada tamu yang datang lagi”, tuturnya. Hotel itu memang tidak biasa ramai dikunjungi tamu. Dari penuturannya, rata-rata tamu yang datang tiap hari sekitar 5-7 orang. Hotel ini biasa digunakan untuk acara-acara seminar, kegiatan-kegiatan semacam workshop. Instansi pemerintahan yang paling sering meramaikan hotel ini.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt; “Silakan kalo mo jalan-jalan, nggak lupa jalan pulangnya kan?” ia mempersilakan kami.&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;Pagi hingga malam karyawan dan karyawati Hotel Dibya Puri bekerja sesuai dengan tugasnya. Meski gaji mereka tidak begitu besar, rata-rata sekitar Rp. 600 ribu, mereka tetap bertahan. Suasana kekeluargaan yang mereka dapatkan memang sulit ditemukan di hotel lain. Keramahan mereka dalam melayani tamu juga menjadi ciri khas pelayanan di hotel berbintang dua ini. Bahkan pelayanannya tidak kalah dengan hotel berbintang empat. Sayang sekali semuanya akan tinggal kenangan karena tidak lama lagi hotel ini akan dijual. Mereka akan pergi dari hotel untuk mencari pekerjaan lain atau mungkin menikmati masa tua mereka di rumah. Mereka kini tinggal menghitung hari dan bersiap pergi bila pengalihan kepemilikan hotel kepada pihak baru telah disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA 19 Maret 2001 PT Natour merger dengan PT hotel Internasional Indonesia (PT HII) yang juga milik BUMN menjadi PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). Sebelumnya, mereka mengelola jaringannya sendiri-sendiri. Hotel Indonesia membawahi hotel-hotel yang dibangun di masa pemerintahan Soekarno, sedangkan National Hotel and Tourism         Corporation Ltd. (Natour) mengelola hotel peninggalan zaman Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Hotel Indonesia Natour mengelola 16 hotel yang tersebar diseluruh Indonesia dan 2 catering di airport Adisucipto Yogyakarta dan airport Juanda Surabaya. Hotel yang berada dalam naungan PT HIN antara lain Hotel Indonesia, Hotel Ambarukmo, Inna Wisata, Inna Samudra Beach, Inna Garuda, Inna Simpang, Inna Grand Bali Beach, Inna Putri Bali, Kuta Beach, Inna Dharma Deli, Inna Prapat, Inna Muara, Inna Dibya Puri, Inna Tretes, Bali, dan Inna Sindhu Beach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hotel yang dikelola oleh PT HIN tergolong hotel tua karenanya memerlukan renovasi dan butuh biaya yang tidak sedikit. Di tahun 2001 pemerintah berencana menjual saham hotel negara. Presiden Direktur HIN, A.M. Suseto menunjukkan master plan privatisasi BUMN yang ketika itu disusun Menteri Negara Investasi dan Pembinaan BUMN. Di situ disebutkan bahwa tahun 2001-2003 HIN harus sudah go public. Manajemen HIN pun sibuk mempercantik diri dan merenovasi bangunan tua. Rencana tinggal rencana. Renovasi terbentur dengan masalah dana. Direktur HIN mengundang investor untuk menjalin kerja sama operasi. Selain dalam bentuk kerja sama, manajemen HIN juga merencanakan menerbitkan convertible bond dengan bunga 0%. Dalam KONTAN 23/V/5 Maret 2001, Suseto mengatakan bahwa utang tersebut baru akan dibayar jika HIN masuk pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hotel akan masuk dalam pasar modal. Antara lain Ambarukmo Palace Hotel Yogyakarta, Samudra Beach Sukabumi, dan Inna Dibya Puri Semarang. Ambarukmo kemudian dilirik oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan sebuah perusahaan dari Singapura sedangkan Samudra Beach sedang diincar oleh Group Telavi Indonesia.. Hotel-hotel tersebut menjadi target pasar modal karena ditahun sebelumnya terus merugi. Adapun Dibya Puri pada saat itu bisa swadaya sendiri sehingga tidak dimasukan pasar modal.&lt;br /&gt;                Ambarukmo Palace Hotel bergabung dengan HIN pada tahun 1996. Akibat kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998, hotel ini mengalami kerugian hingga Rp 1,5 milyar. Tetapi sejak tahun ini pula huniannya menanjak, bersamaan dengan meningkatnya wisatawan domestik. Pada tahun 2000 Ambarukmo berhasil menekan kerugian hingga tinggal Rp 1 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan hotel Natour Garuda. Hotel yang baru bergabung pada Desember 2000 tersebut kecuali pada operasi semester pertama 2000, tidak pernah rugi. Terhitung tahun buku 2000, pendapatannya mencapai Rp 10 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tahun 2002. Rencana penjualan beberapa hotel tersebut masih maju mundur. Tapi yang jelas ada tiga hotel yang akan dijual. Dalam KONTAN 28/VI 15 April 2002, Ferdinand Nainggolan, Deputi Bidang Usaha Logistik dan Pariwisata BUMN mengatakan bahwa 16 hotel yang tergabung dalam BUMN ini terus merugi. Dalam setahun, hotel-hotel ini hanya menghasilkan uang Rp 18,5 miliar. Sedangkan pemerintah meminta meningkatkan kinerja hingga menghasilkan Rp 25 milyar setahun. Bahkan Rp 50 milyar setahun setelah direstrukturisasi. Pemerintah sudah tidak kuat lagi menomboki kerugian HIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samudra beach Pelabuhan Ratu ditawar dengan harga Rp 75 milyar dengan perjanjian bahwa pembeli sanggup mempertahankan nilai-nilai bangunan hotel bersejarah ini. Calon pembelinya adalah investor dari Amerika dan korea. Hotel Ambarukmo dan hotel dharma Deli Medan juga direncanakan dijual meski belum dipatok harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sudah memiliki hunian tinggi seperti Putri Bali dengan rata-rata 90% dan pada tahun 2000 mencapai laba 2,5 milyar, Natour Sindhu yang mampu menjaring 70% hunian dengan keuntungan 4 milyar. Begitu juga dengan Bali Beach Sanur yang tingkat huniannya diatas 82% dan menghasilkan 9 milyar pada tahun 2001. Tapi sayang, Bali Beach harus direnovasi dan biaya renovasi USS 50.000 per kamar. Sebagian saham Bali Beach akan dijual untuk biaya renovasi. Hotel Indonesia rupanya juga merugi hingga 4 milyar rupiah pada tahun 2001. Pemerintah memutuskan menjual 35% saham HI untuk biaya renovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sampai saat ini, hotel-hotel yang menjadi target pasar modal masih dalam proses. Hanya Ambarukmo yang kini sudah lepas dari PT HIN dan menjadi milik keraton Yogyakarta sekarang. Sedangkan Samudra Beach dan Dibya Puri belum jelas jadi dijual atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pemerintah untuk menjual Dibya puri pada tahun 2001 memang ditangguhkan. Tapi pada perkembangannya hotel ini pun harus dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibya Puri, satu dari sekian hotel milik HIN yang bermasalah. Dibya Puri merosot pendapatannya hingga 15 tahun terakhir ini. Kabarnya akhir bulan Februari 2005 akan dialih tangankan. Namun sampai saat ini belum terlaksana. “Kami tinggal menunggu, sudah ada pihak yang menawar”, ujar Suwardo, Manager pemasaran hotel Dibya Puri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN  1964 sebagian area yang berbatasan dengan jalan Imam Bonjol dijual. Gunawan Subiyanto, dari pihak pemkot (jabatannya apa, humas?)membenarkan lahan itu telah dijual. Namun General Manager hotel Dibya Puri, Didik Sudarsono mengatakan bila bangunan itu masih milik Dibya Puri. “Masih, mungkin diluar halaman kita. Kalau diluar halaman kita jelas tho?” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1987 bangunan yang menjulur dibagian barat dijual. Didik mengatakan bahwa ia tidak tahu alasan dijualnya bangunan itu. “Saya tidak jelas karena waktu itu saya baru berdinas disini baru 5 tahun yang lalu. Jadi waktu itu kenapa, bagaimana saya ngga begitu jelas”, akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan itu pun akhirnya dibongkar. Kini hanya tinggal reruntukan dan dikelilingi oleh tumbuhan. Disela-sela tumbuhan pembatas antara Dibya Puri dan bangunan tersebut, ternyata ada police line yang hampir tidak terlihat.    Lagi-lagi Didik tidak bisa memberikan keterangan yang jelas mengenai persoalan bangunan tersebut “Saya pikir bukan masalah sengketanya tapi mungkin kendala mereka dengan pembongkaran itu. Tapi secara jujur saya tidak begitu jelas. Mungkin mereka dalam kaitan pembongkaran yang menjadi masalah. Kepemilikan tidak menjadi masalah. Kalau tanah tidak ada sengketa, kan kita jual”, jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kepemilikan tersebut juga masih menjadi tanda tanya. “…..yang terakhir saya tidak jelas. Kemarin saya sudah cari informasi tapi belum dapat kejelasan.  Waktu itu.... justru saya sedang menanyakan Metro, katanya sudah dijual kepada orang lain. Seminggu yang lalu saya coba tanya,” tambahnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sugiyono tanah itu masih milik Metro. Terakhir yang berita dia dengar, Metro akan menjualnya. Tapi ia tidak mengetahui kepada siapa tanah itu akan dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SUDAH beberapa tahun yang lalu, Sugiyanto mulai berada di sekitar Dibya Puri. Ia adalah seorang buruh yang juga menjadi tukang becak. Sedangkan istrinya berjualan nasi di depan hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tahun 2002. Seusai pembongkaran bangunan Dibya Puri, tanahnya berubah menjadi seperti hutan. Dia masuk ke area itu dan tinggal disana. Pihak Metro kemudian menyuruhnya menjaga dan membersihkan tanah tersebut dari tumbuhan liar. Meskipun tidak mendapatkan upah dari Metro tapi ia mau membersihkan tanah itu. Dengan sekuat tenaga ia membersihkan area yang mirip hutan tersebut sendirian. Kepalanya sempat terluka akibat terkena tanaman yang tumbang . “ Ini kan sudah jadi korban,” ujar istrinya dan Sugiyanto menunjukkan bekas luka di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah seluas 2.000  m&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=19123921#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[2]&lt;/a&gt; ini dibatasi dengan seng pada bagian depan jalan raya. Sedangkan di sebelah Dibya puri dibatasi oleh tumbuhan rimbun yang masih ada sisa police linenya. Dari luar tidak kelihatan kalau ada kehidupan didalamnya. Saya terkejut begitu masuk lewat pintu depan. Sebuah tenda mirip tenda pengungsi ada di sebelah pintu masuk. Yang membuat saya bertambah heran didalam tenda itu ada sebuah TV dan kipas angin diatas. Disebelah tenda ada tiga becak. Sisa-sisa bangunan pun masih ada. Di areal belakang masih ada pohon besar. Dengan tenda yang diberi atap seng dan bawahnya dilapisi dengan kardus. Pasangan suami-istri itu tinggal dengan anaknya yang berumur sekitar dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak ini terus terang  waktu masuk sini tidak ada yang nyuruh,” ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya Sugiyanto dan istrinya mengontrak rumah tapi karena alasan ekonomi, mereka masuk ke area ini. Anaknya ketika dibawa kesini masih bayi. Mereka diijinkan oleh pihak Metro untuk tinggal disini asalkan tanahnya dirawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama dia masuk, banyak pemuda urakan yang ingin masuk ke area ini tapi Sugiyanto tidak mengijinkan. Ia sudah diberi mandat untuk menjaga tanah itu. Meski sempat diancam tapi ia tetap bersikukuh untuk tidak mengijinkan mereka. Tapi kejadian seperti itu tidak terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiyanto rupanya telah siap pindah jika sewaktu-waktu tanah itu akan di bangun.  “Masa disini terus kan tidak mungkin. Anak saya juga akan sekolah,” ucapnya sambil menatap anaknya yang berlarian disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyalakan TV dan menikmati acara yang sedang ditayangkan. Suatu saat dia akan pergi bersama anak istrinya dari areal ini dan tidak akan menebangi tanaman liar yang terus tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan bangunan bekas milik Dibya Puri ini yang mempertemukan dengan sebuah kondisi masyarakat kecil. Dibalik tenda, mereka juga akan menyaksikan babak baru dari penyelesaian permasalahan Dibya Puri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesaat kemudian terdengar suara adzan mengalun. Allahu Akbar. Allahu Akbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;AIRPORT, 1982. Seorang mahasiswa tengah mendekati seorang yang baru sampai di Yogyakarta. Ternyata dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pencari tamu. Dia melakukan pendekatan dengan tamu yang baru datang dan bernegosiasi tentang harga guest house yang dia tawarkan. Begitulah pekerjaannya sebagai pencari tamu. Tak hanya di airport tapi juga di stasiun. Lain waktu dia juga berada di sebuah meja lobby dan melayani tamu. Bukan hanya itu saja ia juga berada di restoran sebagai waitres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pemuda itu bernama Didik Sudarsono. Mahasiswa akademi bahasa asing YIPK Yogyakarta yang juga bekerja serabutan di sebuah guest house di Yogyakarta. Pengalaman kerja waktu masih kuliah membuatnya memutuskan untuk melamar di hotel Garuda, Yogyakarta pada tahun 1983. Baru tahun 1984, Didik diterima di hotel tersebut karena kemampuan bahasa yang dia kuasai lebih dari satu. Dia menguasai bahasa Perancis, Belanda, dan Jerman selain bahasa Inggris. “Merupakan satu kredit poin, sehingga dipertimbangkan saya diterima”, akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali dia bekerja sebagai recepsionis kemudian berkembang menjadi kepala seksi. Karirnya berkembang menjadi wakil kepala bagian dan dilanjutkan ke kepala bagian. Tak hanya di hotel Garuda, karirnya berkembang ke danau toba, prapat. Disana dia menjabat sebagai wakil pimpinan selama empat tahun. Kemudian dia kembali ke Yogyakarta dan menjadi kepala bagian di sebuah hotel berbintang empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah Yogyakarta dan Padang. Didik akhirnya sampai di Semarang. Bulan Februari 2000 dia menjabat sebagai pimpinan unit di hotel Dibya Puri.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Tok. Tok. Tok. Agak lama saya mengetuk pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbuka. Seorang wanita muncul dari balik pintu. “Oh ya, silakan masuk. Pak Didik sudah menunggu didalam,” ujar wanita itu dengan ramah. Lalu dia menutup pintu kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor yang tidak begitu luas itu, seorang laki-laki separuh baya bangkit dari kursi kerjanya. Dia mengenakan seragam batik Coklat. Dengan ramah ia mempersilakan saya duduk. Beberapa menit berlalu dan kami terlibat pembicaraan dengan santai. Didik Sudarsono, General Manager Hotel Dibya Puri dengan ramah menjawab setiap pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memegang jabatan tertinggi di hotel ini bukan sesuatu yang mudah baginya. Perlu Persiapan yang matang untuk memegang jabatan ini. Tidak mudah mengelola hotel yang telah lama merugi. Berbagai upaya dia lakukan untuk tetap eksis di hotel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  “Sebenarnya kita masih mencoba bisa melakukan suatu pengoptimalan agar tetap eksis tapi dengan perkembangan-perkembangan yang ada, hotel lain tumbuh sehingga berpengaruh juga pada kondisi kita. Terus terang saja dari produk kita jauh tertinggal dengan mereka. Mau tidak mau secara umum, secara logika orang akan memilih produknya yang lebih convenience. Nah inilah salah satu bagian kita berupaya eksis tapi disisi lain kita, produk kita tidak mendukung dengan beberapa hal lainnya yang memang menjadi penyebab yang mempengaruhi daripada upaya bisa majunya hotel,” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didik membuktikan bahwa dia bisa melakukan perubahan pada Dibya Puri. Pada saat kepengelolaannya, hotel tidak lagi meminta dropping pada perusahaan pusat. Dimana sebelumnya untuk keperluan belanja, gaji, telfon, listrik, dan biaya operasional lainnya selalu minta dropping. Prestasi lain adalah meningkatnya servis karyawan. Sebelum Didik masuk, servis karyawan rata-rata Rp 40-50 ribu. Pada saat dia masuk servis meningkat menjadi Rp 100, 120, 130, 150 ribu hingga pada bulan Oktober 2004 mencapai hampir Rp 410 ribu diluar gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pihaknya juga berusaha merawat fisik hotel yang mulai lapuk. Upaya yang dia lakukan antara lain dengan perbaikan pada beberapa bagian termasuk pengecatan ulang Tentu saja perawatan itu dilakukan agar nuansa bangunan tua tetap terjaga. Misalnya, lantai hotel yang terbuat dari marmer tetap dijaga keasliannya. Dalam perawatan memang jarang dilakukan. Begitu juga dalam pemfungsian ruangan. Banyak ruangan dan kamar yang tidak terpakai dan tidak segera diperbaiki. Didik mengaku karena keterbatasan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam kepegawaian. Dia mempekerjakan karyawan tetap dan karyawan kontrak. Saat ini ada sekitar 50 orang karyawan. 90% dari karyawan tersebut adalah karyawan tetap. Mereka kebanyakan sudah berusia baya. Lama mereka mengabdi antara 15-25 tahun. Sedangkan karyawan kontrak beda-beda masa kontraknya. Satu bulan, dua bulan, sampai satu tahun tergantung kebutuhan. Biasanya karyawan kontrak direkrut ketika ada karyawan tetap yang sudah pensiun. Untuk gaji, Didik enggan mengatakan jumlahnya. “Sesuai UMR lah”, jawabnya singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penghargaan juga diberikan kepada karyawan yang telah lama mengabdi. Mereka yang telah mengabdi selama 25 tahun diberikan penghargaan berupa piagam dengan pin emas atau dalam bentuk uang. Ada juga kategori untuk mereka yang mengabdi selama 15-20. Pada tanggal 14 Februari 2005, saat Dibya Puri berulang tahun yang ke 29, perusahaan memberikan penghargaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kepengurusan hotel dibawah langsung oleh General manager (GM) dan GM bertanggung jawab pada direksi. Dibawah GM ada lima posisi yaitu Opal, EAM, MPM, Marketing, dan AOM. Opal (Operasioanl Analis) bertugas menganalisa operasional hotel. EAM  (Executive Assistant Manager) bertanggungjawab operasional hotel secara keseluruahan. MPM (Man Power Manager) bertanggung jawab membenahi kekaryawanan. AOM (Accounting Office Manager) bertanggung jawab pada keuangan dan akuntansi hotel. Sedangkan Marketing bertanggung jawab untuk mempromosikan, menjual hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memasarkan hotel itu, pihaknya juga berusaha memadukan antara ketuaan bangunan dengan pelayanan. Keramahan para karyawan inilah yang menjadi daya tarik hotel ini selain bangunannya.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Dibya Puri dibawah kepengelolaan Didik bisa mencapai prestasi yang tidak pernah  terjadi sebelumnya. Tapi ironisnya, hotel Dibya Puri akan dilelang. “Kita belum bisa untung,”jawabnya.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt; 2004. Tiga investor datang untuk menawar hotel Dibya Puri. Tapi pihak direksi belum berniat menjual hotel tersebut. Menurut Didik, pelepasan aset milik pemerintah tidak sederhana. Harus melalui berbagai prosedur termasuk persetujuan Mentri Negara BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jumat, 25 Februari 2005 direksi PT Natour datang ke Dibya Puri. Sekitar jam 18.30 handphone Didik berbunyi. “Ya pak, saya sudah siap, tinggal pakai sepatu,” jawabnya pada si penelpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya direksi menelfon Didik untuk segera berangkat. Saat itu Didik sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat. Malam ini mereka akan rapat direksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 26 Februari 2005 pukul 15.30. Didik baru saja mengantar direksi ke airport. Kedatangan mereka ke Dibya Puri berkaitan dengan masalah pelelangan Dibya Puri. Hal itu diakui oleh Didik tapi dia tidak menjelaskan hasil rapat tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Status Dibya Puri masih milik PT HIN”, kata Didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih melakukan proses pelelangannya. Proses tersebut sudah sampai pada tahap peminat mengajukan kepeminatannya kepada tim. Ada sebuah tim yang menyeleksi calon investor di kantor pusat, jl. Warung raya kapling 38 Jakarta. Dari pusat masih menindaklanjuti sebagaimana mekanisme yang menjadi satu ketentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita mengenai pengalihan pemilikan hotel dibya puri pada akhir bulan Februari 2005 ternyata salah. Hingga 26 Februari 2005 Dibya Puri masih tenang-tenang saja. Pemerintah telah memutuskan untuk melelang Hotel Dibya Puri. Tapi belum ada tanda-tanda kapan pengalihan akan dilakukan. Menurut Didik, pengalihan itu akan mundur waktunya.  Hal  itu tergantung pada keputusan dari calon investor. Beberapa investor perlu persiapan termasuk pengaturan letak bangunan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa investor yang telah menawar Dibya Puri, Didik tidak mau menyebutkan dari mana tapi dia menyebutkan mereka dari Semarang dan luar Semarang seperti Jakarta. “Saya tidak tahu persis namanya tapi ada 3. dua yang serius dan satu yang masih dalam persiapan kesana”, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak pemkot pun menanggapi investor yang akan membeli Dibya Puri. “Setidaknya saya tidak mengetahui dari sisi PT mana tapi mereka saya duga merupakan investor-investor yang mempunyai uang juga. Investor hanya datang pergi, datang pergi, bertanya, dan saya tahu mereka. Jadi dilihat dari apa yang di gambarkan kepada saya, kemungkinan juga investor beneran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut pemkot menyatakan kekhawatirannya pada calon investor tersebut. Mereka ingin membeli Dibya Puri untuk kepentingan bisnis tanpa melihat dari sisi konservasi. "Dari kebanyakan investor yang bertanya ke saya itu, saya menangkap nalurinya itu naluri perusak, naluri destroyer. Jadi mereka kebanyakan bertanya dibya puri bolehkah dibongkar kemudian dibangun ruko misalnya. Mereka ngga lagi bicara mengenai visi konservasi. Ada juga pertanyaan apakah kalo bangunan hotel dibya puri itu harus dikonservasi bangunannya tetap dibiarkan begitu tetapi halamanya dibangun toko bisa apa tidak. Nah itu pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki visi konservasi.  Apa yang dimaksud konservasi termasuk bangunan dan halaman dan suasana itu tetap bagian dari konservasi”, tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didik pun merespon jika pembeli baru merubah fungsi hotel tersebut. Menurutnya, pihaknya telah mendapatkan beberapa catatan bagian mana yang dikonservasi dan bagian mana yang tidak. Apa yang mereka dapatkan akan mereka teruskan pada calon pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pelelangan Dibya Puri masih diperdebatkan oleh berbagai pihak. Kekhawatiran akan berubahnya fungsi bangunan membuat mereka menentukan langkah untuk melindungi warisan sejarah itu. “Sejauh ini kami berhubungan dengan kelompok-kelompok pemerhati budaya seperti Semarang heritage society, sahabat cagar budaya, genera kota, tobong, dan sebagainya. Ya termasuk institusi formal yang telah dikemukakan DP2I, IAI kita perhatikan. Yang paling penting mereka tidak bergerak sendiri, harus menggalang kekuatan bersama untuk menyelamatkan itu. Saya sudah mengatakan pada teman-teman, adik LSM, ataupun kelompok pemerhati kawasan. Saya sudah teriak-teriak. Saya mengatakan tolong diperhatikan dibya puri karena nasibnya terancam. Yang jelas kita menggalang kesamaan visi agar dibya puri selamat,” ujar laki-laki ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibya Puri tinggal menunggu waktu bagaimana nasibnya kelak. Tapi Gunawan menegaskan bahwa jika investor itu melakukan pelanggaran, ada sanksi pidana terhadap mereka.” Ketika terjadi jual beli kemudian pemilik yang baru harus tetap mengindahkan aturan dari pemkot yaitu kaidah-kaidah konservasi. kan kita sudah mengeluarkan di areal itu bagian mana harus dikonservasi yaitu harus dia dipatuhi. Kalau ada pelanggaran ya undang-undang kan jelas itu terhadap pelanggaran mengenai itu bisa dikenakan sanksi pidana,” tambahnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semantara perdebatan yang terjadi diluar, Dibya puri masih menjalankan aktivitas seperti biasanya. Siang hari menjelang check out, para peserta workshop sudah bersiap-siap untuk pulang. Pukul 14.00 mereka menunggalkan hotel. Dibya Puri kembali sepi, tinggal karyawan yang masih menunggu kapan mereka akan meninggalkan hotel  dan tidak akan kembali.***&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=19123921#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19123921-113241258132781589?l=st-andriyani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://st-andriyani.blogspot.com/feeds/113241258132781589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19123921&amp;postID=113241258132781589' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113241258132781589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113241258132781589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://st-andriyani.blogspot.com/2005/11/menunggu-detik-detik-pelelangan.html' title='Menunggu Detik-detik Pelelangan'/><author><name>St. Andriyani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10427718984849925804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i28.photobucket.com/albums/c250/tamansurga/images2.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19123921.post-113242391348772222</id><published>2004-12-19T10:10:00.000-08:00</published><updated>2005-11-19T10:11:53.606-08:00</updated><title type='text'>Diantara Dua Wajah: Alim atau Ngalim?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Menjadi Primus tidaklah mudah. Stigma yang kadung melekat, membatasi ruang gerak mereka di luar.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menjelang maghrib. Dari kejauhan  terdengar suara adzan dari sebuah mushola. Tampak seorang pemuda tengah mengkumandangkan adzan. Pada waktu bersamaan pula, salah seorang temannya tengah bersiap-siap untuk mengimami jamaah yang sudah menunggu. Selesai  sholat, tampak  beberapa pemuda sedang mengaji bersama.  Kegiatan rutin  seperti itulah yang biasa dilakukan oleh pengurus mushola atau yang lebih dikenal dengan primus (pria mushola). Sekilas, para primus tersebut terlihat alim dan santun. Image yang diberikan masyarakat kepada mereka apakah berlebihan atau tidak, tapi itulah kenyataan mengenai keberadaan para primus ini. Sebagai manusia biasa tentunya tidak lepas dari cacat begitu pun mereka. Apakah dalam dunia luar mereka juga berlaku santun seperti ketika berada di dalam mushola?&lt;br /&gt;Mustofa, mahasiswa Sastra Indonesia 2000 yang tinggal di mushola Singosari mengaku, interaksi sosialnya dalam masyarakat tidaklah dibuat-buat. ” Tidak ada beban  bagi saya untuk bergaul dalam masyarakat. Di mushola dan di kampus tidak ada bedanya asalkan kita tahu batas-batasnya dan tetap konsisten. Artinya kalau di  mushola kita tekun ibadah maka diluar pun kita tetap tekun ibadah. Jadi tetap konsisten dengan apa yang telah menjadi pilihan kita,” ujar mantan ketua BEM periode 2002-2003 ini. Ia juga mengaku bahwa pergaulannya dengan lawan jenis biasa-biasa saja. Predikat primus tidaklah mengikatnya pada pergaulan dengan sesama jenisnya saja.&lt;br /&gt;Dia juga menambahkan bahwa di mushola Singosari tidaklah terlalu ekstrim dalam menerapkan disiplin agama. Misalnya tidak ada hijab—pembatas,red)  dalam diskusi yang melibatkan dengan lawan jenis. Tapi dengan syarat mereka tahu batas-batasnya dan sopan dalam tingkah laku mereka. “ Pernah ada masyarakat yang menanyakan mengapa ada masjid atau mushola yang mengharuskan memakai hijab dan ada yang tidak. Kami pun menjelaskan bahwa ada pandangan-pandangan yang berbeda mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Dan kalau pun mushola Singosari tidak memberlakukan hijab itu karena menurut pandangan mereka kondisi geografis dan masyarakat Indonesia tidaklah seperti di Arab. Kalau masalah seperti itu sih tergantung dari individu masing-masing. Mereka pun cukup paham dengan penjelasan kami,” jelasnya. Dia juga menambahkan bahwa ketika masuk dalam mushola, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilarang. Misalnya, ruang umum terbatas pada tempat ibadah dan tempat wudlu. Selanjutnya kamar  adalah ruang privasi bagi mereka. Juga dalam suatu kegiatan, tidak boleh melebihi jam sepuluh malam. Karena, pernah terjadi kasus dimana mereka latihan rebana sampai malam dan masyarakat merasa terganggu. Akhirnya kami mendapatkan teguran dari masyarakat supaya kegiatan tersebut dilakukan pada sore atau dibatasi sampai jam sepuluh malam.&lt;br /&gt;Mustofa adalah sedikit dari mahasiswa yang memilih tinggal di mushola. Dia mengaku bahwa dia tinggal di mushola karena alasan ekonomi. “ Pertama kali tinggal di mushola waktu awal kuliah  tapi saya sempat merasakan ngekos selama dua bulan. Waktu itu saya mendengar dari teman  bahwa di mushola Singosari membutuhkan pengurus mushola dengan syarat mempunyai pengetahuan agama yang lebih dan diutamakan dari keluarga yang kurang mampu. Kemudian saya pun pergi kesana dan tinggal disana sampai sekarang ini," aku pemuda yang tinggal di mushola pada awal bulan Ramadhan 2002&lt;br /&gt;Masyarakat cukup menyegani primus Singosari. Masyarakat juga telah mengakui eksistensi mereka dalam lingkungan mereka. Terbukti dengan diikut sertakannya anak-anak mushola Singosari dalam berbagai kegiatan. Masyarakat sekitar juga turut meramaikan mushola tersebut dengan  mengikuti kegiatan yang diadakan oleh primus Singosari. Yang menjadi masalahnya, masyarakat seringkali menganggap mereka selain lebih pintar agamanya juga mempunyai intelektual yang lebih dari mahasiswa lain.” Saya tidak terbebani dengan predikat primus tapi yang membebani adalah anggapan  masyarakat yang menganggap kemampuan kami lebih dari yang lain. Padahal kami pun seperti mahasiswa lain,” ujarnya dengan nada merendah.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bersama dengan orang lain tentunya tidak luput dari kesalahan. Begitu pun dengan kehidupan di mushola Singosari. Kadang percekcokan itu pun terjadi. Tapi hanya mengenai hal-hal kecil dan selalu dapat diselasaikan.” Penghuni mushola ini berjumlah 6 orang. Kami  sudah seperti keluarga sendiri. Disamping keluarga saya di rumah, saya pun mempunyai keluarga besar di sini. Kami pun sering sharing bareng-bareng bahkan kadang mengenai hal-hal pribadi,” akunya.&lt;br /&gt;Sama seperti Mustofa, Kholiq, mahasiswa D3 Inggris 2001 yang juga  tinggal di mushola Singosari juga berpendapat sama mengenai interaksinya dalam masyarakat. “Sebagai seorang yang menjadi pengurus mushola, saya akan menjaga norma atau adat yang berlaku. Tapi saya bersikap sewajarnya dalam dunia luar mushola dan tidak menjadi seorang yang sok alim. Saya juga berinteraksi dengan teman-teman di kampus tanpa perasaan canggung,” aku pemuda yang aktif dalam HMPSD III ini.&lt;br /&gt;Dia pun melanjutkan perkataannya setelah intermezzo sedikit. Menurutnya, dia  menghargai primus lain yang punya pandangan lain mengenai interaksi dengan masyarakat khususnya dengan lawan jenis. Tapi bagi dia sendiri dia tidak terlalu kaku dalam bersosialisasi dengan lawan jenis. Dengan sedikit malu-malu dia mengaku seperti manusia biasa yang menginginkan jalinan hubungan dengan lawan jenis. “Pernah terlintas keinginan seperti itu tapi saya tahu batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Ya… kita bertindak sewajarnya dan tidak melenceng dari jalurnya,” jawabnya sambil tersenyum-senyum.&lt;br /&gt;Awal mula dia tinggal di mushola sama seperti Mustofa yaitu diberitahu temannya bahwa  mushola sedang membutuhkan pengurus baru. Tapi bedanya, awalnya dia  sering berjamaah ke mushola ketika belum menetap disana. “ Saya mau bergabung di mushola ini karena saya juga ingin menambah pengetahuan saya. Kebetulan kebanyakan dari kami mempunyai background yang sama yaitu  pernah belajar di pondok pesantren. Kita bisa diskusi bersama tentang hal  apapun yang bisa memperluas pengetahuan kita,” ucapnya.&lt;br /&gt;Pemuda yang bernama lengkap Muhammad Kholiq Anshori ini mengaku tidak ada  perlakuan yang istimewa dari masyarakat. Tapi respon dari masyarakat  tetap ada. “ Masyarakat lingkungan Singosari cukup menganggap keberadaan kami. Tapi mereka tipe masyarakat yang cuek dan banyak dari mereka adalah non muslim. Jadi mereka tidak terlalu mempermasalahkan status dan peran kami,” ungkapnya. Dia juga  menambahkan bahwa untuk mempererat tali silaturrahim, biasanya mereka sering ngobrol dan kadang mengunjungi rumah mereka. Primus  mushola Singosari ini juga menerima anak-anak yang ingin belajar mengaji di mushola.&lt;br /&gt;Bagi Mustofa dan Kholiq, hubungan mereka dengan masyarakat  baik di mushola maupun di luar tidaklah jauh berbeda, seperti mahasiswa lain yang tidak mempunyai peran sebagai primus. Di dunia luar mereka tidak melepas peran sebagai seorang yang hidupnya berada di mushola. Tapi tetap menjadi diri sendiri yang berperilaku apa adanya.&lt;br /&gt;Jika Mustofa dan Kholiq berpandangan seperti itu, lain halnya dengan Muhammad Yunus, mahasiswa Sastra Inggris 2002. Ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan Mustofa dan Kholiq. Pemuda kalem yang menjadi takmir masjid Baitunnaim, Pleburan ini mengaku bahwa dalam lingkungan masjid tempat ia tinggal memang mengharuskan adanya hijab jika ada diskusi atau kegiatan yang melibatkan lawan jenis. Dia sendiri juga membatasi untuk akrab dengan lawan jenisnya. “ Di kampus ini memang terkondisikan bercampur dengan  lawan jenis. Saya berusaha menjaga perilaku saya dan tetap memegang iman saya. Saya juga berusaha untuk tidak sampai bicara dengan lawan jenis hanya berdua saja,  minimal ada orang lain atau bicara di tempat yang ramai,” ujarnya dengan agak canggung.&lt;br /&gt;Yunus memang terkenal sebagai pemuda yang alim dan mempunyai image seorang primus yang baik. Dalam bergaul memang kadang terlihat dia sempat ngobrol dengan lawan jenis hanya berdua saja. Bagaimana dengan komitmennya dengan membatasi pergaulan dengan lawan jenis? Ia pun menjelaskan bahwa butuh perjuangan keras untuk menjalankan syariat Islam di lingkungan ia berada. ” Saya bisa bergaul dengan masyarakat kampus dengan apa adanya tapi ada batasannya. Misalnya dengan lawan jenis, di kampus memang tidak memakai hijab tapi saya berusaha menjaga hati saya. Ini memang membutuhkan perjuangan untuk mengkondisikan seperti dalam syariat Islam. Kita yang harus mengkondisikan keadaan bukan keadaan yang mengkondisikan kita. Teman-teman yang sudah tahu, secara otomatis tahu bagaimana seharusnya bersikap. Di masjid atau di ruangan lain mereka akan segera memakai hijab tanpa harus di beritahu. Memang sulit jika masyarakat tidak tahu dan tidak mau tahu tentang syariat islam,” jelasnya.&lt;br /&gt;Yunus pun terus memberikan pandangannya mengenai hubungan muamalah berdasarkan hukum Islam. Ia juga mengaku jika secara tidak sengaja, dia ngobrol dengan lawan jenis dengan tidak ada orang lain maka dia akan mendapat teguran dari teman se-komunitasnya.&lt;br /&gt;Dengan wajah ramah dan banyak senyum yang menjadi cirinya, dia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. “Awalnya saya tinggal dimasjid karena ajakan teman dan kebetulan saya sendiri pun menginginkannya. Saya  memilih tinggal dimasjid karena kita bisa langsung berinteraksi dan dekat dengan  masyarakat. Kita ingin membangun muamalah dengan baik dengan masyarakat,” ungkap pemuda asal Indramayu ini.&lt;br /&gt;Dia pun bercerita mengapa dia memilih mengabdi di masjid. “ Faktor lingkungan memang berpengaruh pada diri saya tapi faktor intern pun sudah ada sejak kecil  yaitu pencarian Tuhan yang sesungguhnya. Tapi semenjak berada disini saya pun  berpikir tidak hanya ibadah kepada Allah, tapi dengan membangun muamalah dengan masyarakat. Di masjid Baitunnaim, Pleburan, remaja masjid sering mengadakan kegiatan keagamaan misalnya diskusi, pengajian, dll,” jelasnya.&lt;br /&gt;Puji Waluyo, ketua Immaro, mempunyai pandangan yang sama dengan Yunus. Ia berpendapat bahwa pergaulan antar lawan jenis memang harus dibatasi, “ Remaja islam itu terikat dengan hukum syara. Ada istilah iftisol dalam islam yaitu pemisahan. Pemisahan disini berarti pemisahan antara ikhwan dan akhwat. Dan bentuk kesepakatan pemisahan itu dengan memakai hijab ketika berbicara dengan lawan jenis,” jelasnya.&lt;br /&gt;Pemuda yang telah lulus dari jurusan kearsipan ini mulai masuk keanggotaan Immaro pada tahun 1999. Tapi mulai tinggal di masjid satu tahun kemudian. Sebagai mahasiswa, ia mempunyai dorongan yang kuat untuk memutuskan mengabdi di masjid. “ Saya mempunyai 3 prinsip sebagai mahasiswa. Pertama, sukses pribadi. Kedua, sukses studi dan ketiga sukses organisasi. Prinsip ketiga yang membuat saya bergabung dengan Immaro. Dan sebagai seorang muslim, harus punya misi menegakkan agama,” jawabnya dengan tegas.&lt;br /&gt;Keteguhan pada prinsipnya juga diterapkan dalam kehidupan pribadinya. Ketika ditanya mengenai pasangan hidup, dia pun tersenyum kemudian segera menjawab.” Menikah bagi seorang mukmin adalah sunnatullah dan ada beberapa jalan untuk mencapainya. Pertama, dengan jalan agama yaitu dengan taarruf. Yang kedua dengan jalan interaksi. Interaksi disini tidak sama dengan pacaran. Dalam hukum islam tidak mengenal adanya pacaran. Interaksi yang dimaksud adalah komunikasi dengan adanya pihak ketiga yang menyertai,” terang pemuda yang sekarang ini bekerja di rental komputer “Restu Gusti” Pleburan.&lt;br /&gt;Pandangan beberapa primus di lingkungan Sastra memang bermacam-macam, tapi semua itu kembali pada individu masing-masing. Mereka mempunyai cara sendiri dalam berinteraksi dengan masyarakat. Asalkan mereka tidak menyalahi tanggung jawab yang telah diberikan kepada mereka. Aktivitas dan peran mereka sebagai remaja masjid/ mushola adalah pilihan mereka secara sadar dan bagian dari sisii mahasiswa yang mempunyai beragam wajah. ( Andri )***&lt;br /&gt;BOKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mushola alim, dikampus gaul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan primus, ketika berada di lingkungan kampus mereka akan berpenampilan sederhana dan menjaga image mereka. Dari penampilan pun bisa ditebak kalau itu seorang primus. Tapi kondisi seperti itu tidak berlaku bagi primus yang satu ini. Sebut saja Winarno Jatiwibowo atau akrab dipanggil Win, mahasiswa D3 FISIP 2002. Kesan yang didapat dari pemuda  ini adalah gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan mudah akrab dengan lawan bicaranya meskipun dengan lawan jenisnya. Penampilannya pun bisa gaul seperti layaknya mahasiswa biasa. Sangat mengherankan karena ia adalah remaja masjid Diponegoro atau dikenal disebut dengan Immaro.&lt;br /&gt;Gaya dan sikapnya yang berbeda ketika berada di masjid dan diluar menurutnya wajar. “Kalau di masjid Diponegoro, saya memang tidak pernah berbicara dengan akhwat. Kenal pun tidak karena biasanya hubungan antara ikhwan dan akhwat adalah antar ketua,” ujarnya dengan santai. Ia pun menambahkan bahwa ia lebih leluasa bergaul dengan lawan jenis di kampus. Dan ia pun bisa bergaul dengan gadis tapi dengan sewajarnya.&lt;br /&gt;            Dengan blak-blakan, ia pun mengaku telah menjalin hubungan dengan seorang gadis semenjak semester III. “Tidak masalah bagi seorang remaja masjid untuk pacaran dengan seorang cewek. Asalkan niatnya bagus. Saya pun biasa dengan teman cewek dan bahkan ada yang sering telfon. Saya bisa mengatakan pacaran dengan definisi saya sendiri. Pacaran disini bukan berarti mengumbar nafsu dan melakukan hal-hal tidak diperbolehkan dalam agama. Tapi pacaran bagi saya adalah hubungan saling mengenal pasangannya,” terangnya dengan berapi-api.&lt;br /&gt;            Ia telah menjalin hubungan dengan kekasihnya selama kurang lebih satu tahun. Orang tua pun telah mengetahui dan ia sudah biasa berkunjung ke rumah camer (calon mertua). Kelihatannya ia memang sedang serius berhubungan dengan gadis.&lt;br /&gt;            Yang agak mengejutkan dia juga mengaku bahwa ia dan kekasihnya biasanya bertemu di masjid. Apakah dia tidak ditegur oleh pengurus lain? “ Tidak ada yang pernah menegur  ketika saya pacaran karena saya pun tidak berbuat macam-macam. Kalau pun kami bertemu dan ngobrol, itu dilakukan bukan ditempat yang sepi.   Saya kira sebagai manusia biasa mereka juga ingin berhubungan dengan seorang gadis,” ucapnya blak-blakan.&lt;br /&gt;            Bagi Win, tidak masalah dengan perbedaan pendapat mengenai agama. Ia mengaku memperoleh ilmu agama dari rumah dan akan ia terapkan dalam kehidupannya. “Saya menjalankan ibadah sesuai dengan ilmu yang saya peroleh dari rumah. Terserah bagi pengurus lain yang punya cara yang berbeda. Disini ada berbagai macam golongan, tidak didominasi oleh kelompok tertentu. Saya pun tidak mungkin menerapkan ajaran disini ketika berada di rumah karena lingkungan saya berbeda dengan disini, “ jelasnya.&lt;br /&gt;             Begitulah Win dengan dengan karakternya  sebagai seorang primus. Dia tahu kapan menempatkan  harus gaul seperti mahasiswa lain atau bersikap alim ketika berada di mushola. Dia memang sedikit dari primus yang berani berbicara blak-blakan tentang kehidupannya dan perilakunya. Meski hal-hal seperti itu wajar dan manusiawi. ( Andri )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19123921-113242391348772222?l=st-andriyani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://st-andriyani.blogspot.com/feeds/113242391348772222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19123921&amp;postID=113242391348772222' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113242391348772222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113242391348772222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://st-andriyani.blogspot.com/2004/12/diantara-dua-wajah-alim-atau-ngalim.html' title='Diantara Dua Wajah: Alim atau Ngalim?'/><author><name>St. Andriyani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10427718984849925804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i28.photobucket.com/albums/c250/tamansurga/images2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19123921.post-113242149601333288</id><published>2004-11-20T09:30:00.000-08:00</published><updated>2005-11-19T09:31:36.133-08:00</updated><title type='text'>SPI Tak Lunas KHS Disita</title><content type='html'>Di fakultas sastra belum melunasi Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) bisa menimbulkan masalah. Bisa-bisa Kartu Hasil Studi (KHS) disita sementara. Pengakuan M. Nadhir, mahasiswa D3 Inggris 2002, bisa dijadikan contoh. Karena belum melunasi SPI, KHS-nya disita. Meski untuk sementara, Nadhir mengaku sempat kerepotan. Untung setelah melobi pihak Dekanat, KHS-nya pun bisa keluar. “Tapi saya bersyukur setelah membuat pernyataan dan mendapatkan rekomendasi dari PD II akhirnya KHS ku bisa diambil,”akunya.&lt;br /&gt;            Masalah itu tak hanya menimpa Nadhir, Nicholas, maahasisiwa D3 Inggris 2002 juga bernasib sama. Namun Nicholas tak merasa kaget, sebab pembayaran SPI tetap ada toleransinya. Apalagi menurut Nicholas, informasi pengalaman di tahun lalu pembayaran SPI bisa dilunasi sampai wisuda. “Tapi disini saya tidak bermaksud menyepelekan dengan tidak membayar SPI tepat waktu,”ungkapnya.&lt;br /&gt;            Pembantu Dekan II Fakultas Sastra, Drs. Sunarwoto, mengaku tindaakan penahanan KHS terpaksa dilakukan agar mahasiswa tak ingkar janji. Konsekuensi ini diberlakukan untuk memberi kepastian waktu pelunasan SPI. Bentuknya, membuat surat pernyataan perjanjian SPI akan dilunasi. Meski begitu Sunarwoto juga mengakui adanya kompromi. “Dalam artian bagi mahasiswa yang benar-benar tidak mampu dan disertai alasan yang logis pihak Fakultas masih bisa memberi kompensasi,”jelasnya.&lt;br /&gt;            Secara umum, menurut Sunarwoto, dana SPI amatlah penting. SPI digunakan untuk pengembangan institusi Sastra. Alokasinya khusus bagi program Diploma dan Ekstensi digunakan untuk biaya operaasional dan menggaji para dosen. Sedangkan SPI dari SI Reguler digunakan untuk membangun gedung Fakultas Sastra di Tembalang.&lt;br /&gt;            Sementara itu, Asiyanto, mahasiswa Sastra Inggris Ekstensi 2002, mengaku makin kebingungan dengan kebijakan itu. Menurutnya sesuai kesepakatan pada awal registrasi, SPI dapat diangsur tiga kali. Namun kenyataannya, SPI mesti dilunasi pada awal semester dua. “Saya benar-benar bingung karena belum mempunyai uang,”ucapnya jujur. “Atas saran dari Yetty (Kabag keuangan Undip-red) saya negosiasi dengan pihak TU dan akhirnya berhasil,”imbuhnya.&lt;br /&gt;            Dra. Yetty Wahyu Budiati, MM, Kabag. Keuangan Undip, menyatakan bahwa kebijakan SPI dipegang penuh Universitas dengan tetap memperhatikan aspirasi dari Fakultas. Namun, dalam tataran teknis, pihak Fakultaslah yang lebih menentukan. “Memang disini Fakultas mempunyai wewenang membuat kebijakan demi menertibkan mahasiswa yang kurang disiplin dalam membayaar SPI,” ungkapnya.&lt;br /&gt;            Jadi bila KHS terpaksa disita sementara karena belum lunas SPI, ya, harap maklum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19123921-113242149601333288?l=st-andriyani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://st-andriyani.blogspot.com/feeds/113242149601333288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19123921&amp;postID=113242149601333288' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113242149601333288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113242149601333288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://st-andriyani.blogspot.com/2004/11/spi-tak-lunas-khs-disita.html' title='SPI Tak Lunas KHS Disita'/><author><name>St. Andriyani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10427718984849925804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i28.photobucket.com/albums/c250/tamansurga/images2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19123921.post-113242406538324859</id><published>2004-08-19T10:13:00.000-07:00</published><updated>2005-11-19T10:14:29.780-08:00</updated><title type='text'>Dilemma Penerapan Jalur Khusus di Undip</title><content type='html'>&lt;em&gt;Seleksi penerimaan mahasiswa baru ‘jalur khusus’ di buka di Undip. Sebagian orang tua mahasiswa cemas. Persaingan menjadi tidak sehat.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.00. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro lengang. Hanya tampak ada aktivitas di ruang kelas yang berdampingan dengan kantor redaksi Opini –Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) FISIP. Para calon mahasiswa baru sedang mengikuti matrikulasi. Matrikulasi adalah pengayaan materi-materi yang diberikan di SMU bagi calon mahasiswa baru yang diterima melalui jalur PSSB (Penerimaan Seleksi Siswa Berprestasi, Red) karena dianggap belum menguasai materi secara maksimal.&lt;br /&gt;Arloji ditangan kiri saya telah menunjukkan pukul sembilan. Waktu istirahat tiba. Kelas mulai gaduh. Seorang calon mahasiswa bertubuh tambun keluar dari ruangan kelas dengan dua temannya. Saya mendekat dan menyapa pemuda itu, “indra!”. Ia menatap curiga. Saya memang sudah mengetahui namanya dari salah seorang teman mahasiswa barunya. Percakapan berlangsung dengan kurang mendapat respon.&lt;br /&gt;Indra, calon mahasiswa Fakultas Ekonomi 2003 merupakan salah satu mahasiswa PSSB jalur khusus. Nama ini digunakan untuk menyebut jalur penerimaan mahasiswa baru diluar jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, Red) dan PSSB. Di Undip jalur penerimaan mahasiswa baru yang satu ini diberi nama Jalur Pengembangan Prestasi dan Kerjasama atau disingkat jalur P2K.&lt;br /&gt;”Saya tidak tahu mengenai jalur khusus tersebut”, ujar Indra. Raut mukanya berubah menjadi merah. Ia berusaha menghindar dan hanya menjawab seenaknya. Percakapan hanya berlangsung beberapa menit ketika kemudian seorang dosen masuk ruang kelas.&lt;br /&gt;Indra adalah salah satu potret mahasiswa yang memilih jalur khusus untuk dapat diterima di sebuah PTN. Meski banyak pihak merasa gerah dengan pembukaan jalur khusus tersebut, beberapa PTN masih terus membukanya. Dan anehnya, tidak sedikit pula calon mahasiswa yang berminat. Bagaimana reaksi masyarakat dan mahasiswa dengan adanya jalur khusus tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AUDITORIUM Undip, pukul 10.00 WIB. Seorang lelaki paroh baya sedang melihati selembar koran yang tengah dipegangya. Zamroni, orang tua salah seorang calon mahasisiwa baru program reguler mengaku sedang mencari-cari nama anaknya. Hari itu adalah pengumuman hasil SPMB (Seleksi Penerimaan Mamasiswa Baru, Red). Undip memang menerbitkan koran khusus yang berisi tentang pengumuman hasil SPMB yang diselenggarakan oleh panitia lokal Undip Semarang.&lt;br /&gt;“Jalur ini hanya untuk kalangan yang mampu saja bukan kalangan menengah ke bawah seperti saya,” ujar Zamroni. Bapak yang sehari-harinya berjualan keliling pakaian jadi ini mengatakan anaknya tetap akan kuliah meski tidak diterima di PTN.&lt;br /&gt;“Kuliah di PTN memang menjadi dambaan bagi setiap orang dan bagi saya sendiri itu sebuah kebanggaan. Meskipun biaya kuliah sekarang mahal, baik di PTN maupun di PTS, tapi anak harus tetap kuliah. Jika anak saya tidak diterima di Undip mungkin akan kuliah di swasta tapi tidak tahu dimana, itu terserah anaknya sendiri. Cita-cita orang tua hanya ingin anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dan saya tidak ingin anak saya hanya sekedar lulus dengan predikat sarjana tapi yang diharapkan adalah setelah lulus bisa menerapkan ilmunya dalam kehidupan dan menularkan pada masyarakat,” ujarnya.&lt;br /&gt;Bagi bapak delapan anak ini, pendidikan sangat penting untuk anak. Ke-delapan anaknya itu semuanya kuliah dan lima diantaranya sudah bekerja. Anaknya yang ikut SPMB ini adalah yang terakhir. “Kakaknya semuanya kuliah, jadi kalau sampai tidak kuliah gara-gara tidak diterima di negeri itu salah. Kakaknya semuanya saja tidak kuliah di negeri. Ada yang kuliah di STIBA dan pertanian di Udayana. Saya sangat mengedepankan pendidikan bagi anak meskipun harus membanting tulang dan mungkin menjual harta yang saya miliki. Membekali ilmu itu lebih penting daripada harta.’’&lt;br /&gt;Sementara putrinya yang berada disampingnya masih mencari-cari namanya di koran dan sesekali mendengarkan perkataan ayahnya. Zamroni pun melanjutkan pembicaraan.&lt;br /&gt;Tingginya biaya pendidikan PTN sekarang ini, tidak menyurutkan niat Zamroni untuk menguliahkan anaknya. Ia bisa memaklumi kenaikan biaya pendidikan di PTN seperti Undip sekarang karena dikuranginya subsidi dari pemerintah menjelang diberlakukannya otonomi kampus. Namun pemerintah harus memikirkan ulang kebijakan tersebut, karena akan berdampak luas, khususnya masyarakat golongan menengah ke bawah seperti dirinya. “subsisdi untuk pendidikan seharusnya ditambah. Para pejabat yang duduk di atas itu yang jatahnya harus dikurangi”, tegasnya.&lt;br /&gt;Ditemui di tempat yang sama pula, ibu Agus, orang tua dari Tika, juga tidak setuju dengan adanya jalur khusus. “Itu hanya pelarian orang-orang kaya yang tidak mau berusaha masuk PTN lewat tes dan mencari yang mudah saja. Saya tidak yakin akan kemampuan mereka yang ikut jalur khusus. Yang penting mereka punya uang untuk membeli kursi di PTN,” ujarnya dengan penuh semangat. Dia mengaku kurang tahu-menahu tentang proses penyeleksian jalur khusus. Apakah benar lewat tes. Ataukah sebenarnya hanya cukup dengan membayar segepok uang. Dia juga tidak yakin kalau seleksi penerimaan mahasiswa baru yang satu ini melalui penyaringan dari hasil tes yang sebenarnya. “Yang penting kan pembayaran sumbangannya. Kalau mereka berani membayar jumlah yang telah ditentukan ya sudah diterima kan?” tambahnya.&lt;br /&gt;Wanita itu masih tampak muda. Pakaiannya rapi. Ia selalu menjawab setiap pertanyaan dengan antusias. Ia juga sepakat dengan Zamroni, bahwa pendidikan anak adalah nomor satu. Baginya sangat penting bagi seorang anak untuk berpendidikan tinggi. “Anak adalah produk satu-satunya. Sebagai penerus bangsa anak-anak harus dibekali dengan pendidikan setinggi-tingginya,”. Ia tidak keberatan dengan kenaikan biaya pendidikan di PTN selama masih dalam batas yang wajar dan masih mempertahankan idealismenya sebagai institusi yang mencetak lulusan yang bekwalitas.&lt;br /&gt;Image PTN sebagai institusi pendidikan yang bermutu memang masih melekat di hati masyarakat. Tika adalah salah satu buktinya. Sorot matanya bersinar. Wajahnya riang, setelah ia tahu bahwa dirinya diterima di Jurusan Kimia, Fakultas Teknik Undip. “Kuliah di Kimia adalah cita-cita saya sejak dulu. Saya juga mendaftar di Unika jurusan Arsitektur dan diterima, tapi tidak saya ambil karena menunggu pengumuman SPMB dulu. Dan saya sangat senang karena ternyata saya diterima di Undip”.&lt;br /&gt;Bagi Tika kemudahan lewat jalur khusus yang sedang marak saat ini kurang memuaskan. Dia sendiri andaikata ditawari jalur tersebut akan menolak. “Lebih puas dan bangga masuk PTN dengan SPMB karena saingan kita sangat banyak dan kita akan terdorong untuk belajar lebih giat.. kalau lewat jalur khusus disamping berprestasi juga harus mempunyai uang banyak. Lagi pula persaingannya tidak ketat dan menjadi tidak sehat karena hanya untuk yang mampu,”jelasnya.&lt;br /&gt;Jalur khusus diketahuinya dari berita di televisi dan koran karena gurunya di sekolah tidak pernah bercerita mengenai hal itu sebelumnya. Beberapa temannya ada yang mengikuti jalur khusus dan rata-rata mereka dari keluarga yang mampu dan juga berprestasi. Dia mengaku tidak begitu tahu karena mereka beda kelas.&lt;br /&gt;Berbeda dengan ibunya yang sangat tidak setuju dengan jalur khusus tersebut, Tika agak welcome. Dia sendiri mempunyai dua pandangan mengenai jalur khusus tersebut. “Saya setuju dengan jalur khusus karena uangnya bisa untuk pembangunan Universitas tapi saya juga kurang setuju karena secara otomatis diperuntukkan bagi orang kaya. Kata teman saya, ada kelasnya sendiri-sendiri dan itu kan semacam diskriminasi”.&lt;br /&gt;Lain Tika lain pula dengan Sugiyah. Gadis asal SMU 7 Semarang ini tidak bisa mentolerir kehadiran jalur khusus. Bila Tika masih ada sedikit pro dengan kebijakan PTN membuka jalur khusus, dia tidak sepakat karena biayanya sangat mahal.&lt;br /&gt;Tentang teknisnya dia mengaku tidak tahu karena gurunya tidak pernah menjelaskan secara gamblang. Ia mengetahui jalur khusus lewat edaran yang ia dapat dari salah seorang temannya di sekolah. Sebatas yang ia tahu, cuma siswa yang berprestasi harus meminta informasi pada guru. ”Ada 5 siswa yang ikut jalur khusus di UGM, 7 siswa di Unnes, dan seorang di Undip di fakultas Teknik. Tapi saya tidak tahu berapa jumlah uang yang dibayarkan. Selain ikut jalur khusus mereka juga mendaftar SPMB dan rata-rata memilih jurusan Kedokteran.&lt;br /&gt;Nurul Inari, asal SMU 1 Semarang, juga sependapat dengan Sugiyah. Menurutnya, jalur khusus membuat orang kaya senang. Dengan mengelurkan sejumlah uang yang bagi mereka bukan masalah bisa memilih PTN yang dikehendaki. “Kebanyakan dari mereka tidak mau ambil pusing dengan ikut SPMB. Melelahkan mungkin bagi mereka juga tidak menjamin mereka masuk seleksi,” ujar gadis berkulit putih ini. Seperti Tika dan Sugiyah, temannya banyak yang ikut jalur khusus. Infornasi tentang jalur khusus di dapat dari sekolah.&lt;br /&gt;Dia berpendapat bahwa tingginya biaya di PTN akan menghambat akses pendidikan dikalangan yang kurang mampu. Tentu saja mereka akan berpikir-pikir lagi untuk kuliah. “Dulu di PTN biayanya relatif lebih murah dari PTS, tapi tampaknya sekarang ini sama mahalnya. Jika tingginya masih wajar mungkin yang kurang mampu bisa mengajukan beasiswa atau keringanan. Tapi jika biaya pendidikan melambung tinggi, belum lagi biaya hidup, bagaimana nasib yang kurang mampu tapi masih ingin kuliah?” ucapnya.&lt;br /&gt;Berbeda dari Sugiyah dan Nurul, Untung Suryono dari SMU 3 Semarang mengaku setuju dengan adanya jalur khusus. Menurutnya, mereka yang mengikuti jalur khusus adalah yang berprestasi dan punya uang. “Saya kira jalur khusus itu tidak apa-apa, mereka kan punya uang untuk menyumbang Universitas untuk pembangunan. Dan itu bentuk kebijakan dari PTN dalam rangka mencari dana tambahan karena subsidi dari pemerintah telah dicabut. Tapi dengan adanya jalur khusus, PTN sekarang ini makin komersial sekomersial PTS,”ucapnya.&lt;br /&gt;Menurut pengakuannya, ada sekitar 20 orang yang mengikuti jalur khusus di sekolahnya. Rata-rata mereka adalah anak dari pengusaha dan dokter. Ada teman dekatnya yang ikut jalur ini tapi sayangnya Untung tidak mau memberithau tantang temannya itu&lt;br /&gt;Penuturan Untung di atas kedengarannya memang sangat klise. Apa benar mereka berprestasi, dan mereka ingin menyumbang? Atau hanya ingin ‘menyumbang’ agar bisa diterima. Kalau kemungkinan yang kedua benar, maka terlihat sebenarnya mereka malas dan tidak mau untuk berusaha melewati rintangan. Mereka lebih suka memanfaatkan fasilitas yang dimiliki dan mencari cara termudah walaupun membutuhkan banyak uang. Bagi mereka masalah finasial tidak jadi persoalan penting dan memang dengan uang bisa mengatur segalanya termasuk dalam pendidikan. Sikap seperti inilah yang akhirnya menimbulkan kesenjangan antara yang mampu dan yang tidak mampu semakin mencolok. Dan jalur khusus pada muaranya akan membuat dinding pemisah antara si kaya dan si miskin semakin kuat.&lt;br /&gt;Seperti yang terlihat pada saat matrikulasi. Tampak seorang pemuda berpenampilan ‘wuah’ tengah berjalan bersama gengnya. Gaya dan penampilan yang khas membuatnya berbeda dari mahasiswa lain.&lt;br /&gt;Rimbo, mahasiswa Akuntansi 2003 adalah salah satu mahasiswa jalur khusus. Dari penampilan dan pergaulannya pada saat matrikulasi dapat ditebak dia mahasiswa borju.&lt;br /&gt;“Rimbo?’, jawab salah seorang temen sekelasnya ketika saya tanya mengenai dirinya. Dia sudah tidak asing lagi. Hampir semua teman sekelas sudah mengenalnya. Orangnya suka bergaul dengan teman-teman tertentu saja. “Saya sendiri tidak begitu deket dengannnya karena dia and the gang membentuk gap sendiri,” tukasnya dengan cepat.&lt;br /&gt;Rimbo adalah alumni SMU Don Bosko. Salah satu SMU ‘elit’ di Semarang. Kebanyakan siswanya merupakan keturunan Tionghoa. Sebuah etnis yang diidentikkan dengan pengusaha kaya dan berada di Kota Lumpia.&lt;br /&gt;Di tempat sekolahnya dulu, SMU Don Bosko menawarkan adanya PSSB dengan syarat mendapat rangking 10 besar di kelas dan melalui tes. Akhirnya dia ikut tes yang diadakan di sekolahnya dan lulus. Tapi tidak jadi diambil karena jurusan yang diambil tidak sesuai dengan keinginannya. Kemudian Rimbo melanjutkan ceritanya. “Saya mendapat tawaran lagi untuk bisa memilih jurusan yang dikehendaki tapi masing-masing jurusan ada tarifnya dan agak mahal disamping juga prestasi selama di SMU. Akhirnya aku mengambil Ekonomi Akuntansi yang selama ini aku impikan,”. Bicaranya terlihat sangat hati-hati.&lt;br /&gt;Awalnya dia tidak mau menyebutkan berapa jumlah yang telah ia bayarkan pada pihak fakultas. Namun setelah kami berdua asik bercerita, secara tidak disengaja ia ‘keceplosan’ mengatakan bahwa dia membayar 10 juta dan orang tuanya yang mengurusnya sampai Rektorat. “Memang dalam berita yang saya dengar sumbangannya sebesar 25 juta. Tapi ternayata bisa ditawar 10 juta dan yang mengurus semuanya adalah orang tua saya dan saya tidak tahu menahu mengenai prosedur pembayarannya.”&lt;br /&gt;Adanya penolakan dari masyarakat mengenai jalur khusus ini diantaranya karena dinggap memudahkan bagi orang kaya. Dan mereka menganggap calon mahasiswa yang mengikuti jalur ini kemampuannya masih perlu ditanyakan. Rimbo membantah pernyataan tersebut. “ Yang menjadi tolok ukur penerimaan jalur ini bukan semata-mata jumlah sumbangannya tapi prestasi juga menjadi syarat utamanya. Banyak teman saya mengikuti jalur khusus tapi ada yang tidak diterima karena nilainya kurang. Contoh lain adalah saya sendiri yang bisa menawar jumlah sumbangan menjadi lebih ringan. Pertimbangan dibolehkannya tawar menawar karena prestasi akademik saya di SMU,” bantahnya seraya memperbaiki duduknya.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian. Saya dan salah seorang teman dari Hawe pos bertandang ke rumah Rimbo yang berada di daerah Tlogosari. Beberapa pemuda sedang duduk-duduk bergerombol di depan rumahnya. Mereka menyapa dengan ramah dan langsung mempersilakan kami masuk.&lt;br /&gt;“Oh mau bertemu dengan bapaknya Rimbo ya, tunggu sebentar akan saya bangunkan,” ucap salah seorang pemuda tadi. Pada waktu itu memang tampak seorang pria aproh baya sedang tidur di sofa. Begitu masuk rumah itu, yang terlihat pertama kali adalah tanda salib yang ada disetiap sudut ruangan. Rumah itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu mewah. Pria itu tampak terkejut melihat kedatangan kami karena kami memang belum saling kenal. Matanya berkaca-kaca, dia mempersilakan duduk.&lt;br /&gt;Jatmiko, bapak dari Rimbo selama ini bekerja di pabrik Pusri Kudus dibagian pemasaran dan jarang sekali pulang ke Semarang. Yuni, istrinya yang sekaligus ibu dari Rimbo ikut pula ke Kudus sejak tahun 2001. Jadi Rimbo selama ini tinggal bersama saudara-saurdaranya.&lt;br /&gt;“Yang saya tahu sekolah mendapat rekomendasi untuk mendaftar siswa-siswi yang berprestasi. Setelah itu fakultas masing-masing akan mewawancarai orang tua masing-masing anak yang telah mendaftar. Dalam wawancara itu ditanyakan kesanggupan membayar sumbangan minimal 10 juta dan dilihat rapor dari kelas satu sampai kelas tiga. Dan proses yang terakhir adalah menunggu pengumuman dan ternyata anak saya lulus seleksi. Kami tinggal menunggu panggilan untuk mengurus pembayaran dan lainnya. Soal pembayarannya saya kurang tahu, karena semua diurusi sama istri saya” ucap Jatmiko tenang.&lt;br /&gt;Sama seperti anaknya, dia berpendapat jalur khusus memang memudahkan tapi juga harus ditunjang dengan prestasi. ”Rimbo pada saat semester pertama mendapat ranking tiga dan pada ujian terakhir mendapat ranking lima,“ tambahnya.&lt;br /&gt;Demi pendidikan anaknya ia rela membayar mahal asalkan anaknya berprestasi dan sungguh-sungguh dalam kuliah. Maka tak masalah baginya jika anaknya masuk PTN lewat jalur khusus. “Dia kan dalam bidang akademik bagus dan demi mewujudkan cita-citanya apa salahnya kalau saya melakukan yang terbaik baginya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI Fakultas Kedokteran jumlah mahasiswa jalur khusus menempati peringkat teratas yaitu sebanyak 20 orang. Bidang ini memang banyak diminati oleh para lulusan SMU dan begitu juga para orang tua, banyak yang menginginkan supaya anaknya masuk Kedokteran. Karena itulah yang mungkin menyebabkan jumlah mahasiswa jalur khusus di Fakultas Kedokteran paling banyak. Jumlah sumbangannya juga paling tinggi yaitu minimal 100 juta. Bahkan tak sedikit yang rela membayar lebih dari jumlah yang dipatok itu agar dapat diterima di fakultas bergensi itu.&lt;br /&gt;Rani adalah salah satunya. Gadis bertubuh mungil ini mengaku ingin kuliah di Kedokteran karena sudah sejak kecil ia bercita-cita ingin menjadi dokter dan keinginan itu bertambah setelah masuk SMP. Dan rupanya keinginan itu juga dipengaruhi saudara-saudaranya yang telah menjadi dokter.&lt;br /&gt;Sama seperti Rimbo, Rani juga awalnya tidak mau mengakui apabila dirinya diterima lewat jalur khusus. Siang itu ia didampingi ibunya. Mereka mulanya menutup-nutupi. Namun akhirnya ibunya bersedia buka mulut juga.&lt;br /&gt;”Begini…saya akan menceritakan runtutannya. Awalnya mendapat formulir dari sekolah kemudiam mendaftar dan orang tua dipanggil untuk wawancara dan melengkapi syarat-syarat PSSB dan juga raportnya dilihat serta kesanggupan untuk membayar sumbangan sebesar 100 juta,” cerita ibu Rani. Bicaranya pelan. Ia tampak hati-hati dalam menuturkan setiap kata yang diucapkannya.&lt;br /&gt;Jika Rimbo dalam pembayarannya bisa lewat proses tawar menawar, Rani tidak demikian. Malahan orang tuanya berani membayar lebih dari 100 juta. Melihat persaingan yang begitu ketat, orang tua rani rela menambah 25 juta karena khawatir anaknya tidak diterima.&lt;br /&gt;‘ayahnya yang mengurus semua keperluan pembayarannya”, ucap ibu rani lirih. “Setelah tahu bahwa jumlah nominalnya sebanyak itu, sebenarnya saya tidak mau karena kasihan dengan orang tua saya yang harus membayar sumbangan sebesar itu,” aku Rani yang juga diiyakan ibunya.&lt;br /&gt;Keinginan yang begitu kuat membuat orang tua Rani rela membayar mahal. Bagi ibu Rani, uang tak jadi masalah asalkan ada kemauan dan anaknya sungguh-sungguh. Sebenarnya Rani sendiri tidak setuju dengan jalur khusus. ”Kasihan anak yang pintar tapi kurang mampu tapi demi melihat keinginan anaknya yang menggebu-gebu, saya akhirnya mengikutkan Rani dalam jalur khusus. Lagipula pendidikan bagi anak sangat penting, melihat anak-anak sekarang ni semakin cerdas-cerdas. Yang penting minat dan kemampuan dari si anak, orang tua tinggal mendorong saja,” tegasnya seraya menutup perbincangan.&lt;br /&gt;Bagi orang tua mahasiswa jalur khusus, biaya mahal tak menjadi soal selama dapat memenuhi kebutuhan anaknya. Namun bagaimana dengan keluarga yang kurang mampu? Dan benarkah dalam prakteknya di lapangan, uang hasil sumbangan jalur khusus itu akan digunakan untuk membantu mereka yang tidak mampu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19123921-113242406538324859?l=st-andriyani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://st-andriyani.blogspot.com/feeds/113242406538324859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19123921&amp;postID=113242406538324859' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113242406538324859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19123921/posts/default/113242406538324859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://st-andriyani.blogspot.com/2004/08/dilemma-penerapan-jalur-khusus-di.html' title='Dilemma Penerapan Jalur Khusus di Undip'/><author><name>St. Andriyani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10427718984849925804</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i28.photobucket.com/albums/c250/tamansurga/images2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
