andriyani

Saturday, November 19, 2005

Kisah Duka Pernikahan

Bagi pasangan muda yang baru menikah, menjalani kehidupan rumah tangga ibarat mengarungi samudra kenikmatan. Dunia seperti milik berdua, orang lain dianggap mengontrak saja.

Oleh Siti Andriyani

Ternyata semua itu hanya khayalan kita saja. Buktinya, bisa sebaliknya. Pernikahan bisa membawa luka yang menyakitkan. Bahkan amat menyakitkan.
Setidaknya itulah pengakuan Lusi, 21 tahun, (yang minta namanya disamarkan) mahasiswa Sastra Inggris anggatan 2001. Meski dalam kesehariannya seperti tak memiliki masalah. Namun Lusi sebenarnya punya masalah serius. Akibat kegagalan rumah tangga yang dibangunnya 2 tahun lalu, trauma masih menggantung dibenaknya.
Seperti pagi itu, Lusi tampak berbincang-bincang akrab dengan temannya, di panggung timur Fakultas Sastra. Mereka mengobrol asyik sekali. Sesekali tawa mereka berdua berderai.
Saat ditemui dan ditanyakan perihal pernikahannya, raut muka Lusi seketika berubah. Lusi berusaha tegar. Memang, menurut Lusi, tak banyak yang tahu kalau dirinya telah menikah. Kalaupun teman-temannya tahu, mereka pun tak akan mengetahui jika dirinya mempunyai masalah besar. Status janda tengah menantinya. Artinya rumah tangganya diambang perceraian.
Ketika diminta menceritakan pernuiakahannya, dengan raut muka serius Lusi pun berkisah.
Dua tahun sudah ia menjalani rumah tangga yang bisa dibilang sulit. Suaminya hidup di pulau seberang yang dipisahkan laut Jawa. Sebagai pasangan muda yang rela menjalani rumah tangga jarak jauh, Lusi mencoba tabah. Dulu komitmen mereka berdua akan selalu mengukuhkan hubungan dalam sebuah pernikahan. Namun akhirnya setelah Lusi mengajukan cerai keduanya tinggal menunggu waktu.
Kehidupan rumah tangga Lusi terbilang unik. Kisah pertemuannya dengan suaminya pun terjadi di Kalimantan Timur. Tepatnaya ketika Lusi duduk di kelas dua SMU. Pertemauannya dengan Herman (yang sekarang ini masih berstatus sebagai suaminya) berawal ketika temannya memperkenalkannya di tempat kursus komputer. Saat itu status Herman masih kuliah tingkat akhir. Dari perkenalan itu berlanjut menjadi hubungan kasih. Herman yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur menunjukkan keseriusannya dengan membicarakan masalah pernikahan setelah hubungannya dengan Lusi sudah berjalan selama satu tahun. Akhirnya mereka sepakat menikah pada 2 Mei dua tahun lalu.
“ Bukannya ada sesuatu yang mengharuskan untuk segera menikah tapi kami sudah pacaran selama satu tahun dan saya pikir sama saja menikah saat itu ataupun nanti. Toh kami sudah saling mencintai,” ucapnya beralasan. Praktis Lusi menikah dengan Herman ketika masih berstatus siswa kelas tiga SMU. Dan Herman masih sebagai mahasiswa yang tengah menyelesaikan skripsi.
Awalnya kedua orang tua tak mengizinkan. Apalagi menikah di usia muda memang bukan keputusan mudah. Tapi itulah langkah yang diambil keduanya. Ibaaratnya, cinta bergejolak hebat layaknya Laut Jawa.
Akhirnya mereka pun memutuskan menikah. Alasannya sederhana saja, tak mau kehilangan satu sama lain. “Cukup klise memang kedengarannya tapi itulah kenyataannya. Keputusan untuk menikah sempat ditentang oleh kedua orang tuaku mengingat usiaku yang masih muda tapi aku berhasil meyakinkan orang tuaku bahwa aku bisa menjalaninya dengan baik,”jelasnya.
Impian memang tak semudah kenyataan. Usai menikah, Lusi diterima kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Undip Semarang. Artinya, Lusi harus berpisah dengan suaminya yang berada di Kalimantan Timur. Namun dua tahun menjalani pernikaahan jarak jauh membuat merekah lelah. Apalagi usia mereka yang masih muda memicu keinginan untuk saaling menang sendiri. Ego telah menguasai keinginan masing-masing.
“Suamiku menghendaki agar saya kuliah di Universitas Mulawarman saja dan kami menjalani kehidupan rumah tangga seperti lainnya. Tapi saya tetap ingin melanjutkan kuliaah di Undip dan saya menyarankan supaya dia saja yang pindah dan bekerja disini. Dia tetap pada pemdiriannya dengan alasan dia sudah mendapatkan pekerjaan yang baik dan terikat kontrak,”tambahnya.
Kelanjutannya? Dengan raut muka sedih dia menjelaskan bahwa mereka tidak bisa disatukan kembali. “Saat ini saya sedang mengurus perceraiam kami. Saya telah mengajukan surat cerai di pengadilan Solo. Ini adalah keputusan yang sangat sulit. Siapa sih yang tidak ingin mempertahankan rumah tangga. Saya sudah berusaha tapi hasilnya nihil,”ucapnya.
Lusi juga menjelaskan bahwa kegagalan bahwa kegagalan rumah tangganya tidak dikarenakan oarang ketiga. “Tidak ada orang ketiga dari pihak saya tapi tidak tahu kalau kalau dari pihak suami saya. Yang jelas bukan karena orang ketiga alasan kami mengakhiri pernikahan ini. Dalam pergaulan pun saya membatasi bergaul dengan cowok mengingat status saya yang telah menikah,”ungkapnya.
Tampaknya, menurut Lusi, rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan lagi. Apalagi keduanya telah sepakat untuk bercerai, “Kami sudah bicara panjang lebar dan jalan satu-satunya adalah berpisah. Paman saya yang mengurus perceraian saya ini. Dan saya tidak tahu apakah permohonan cerai saya dapat dilakukan di Solo mengingat pernikahan saya dilaksanakan di Kalimantan. Saya mengajukan cerai di Solo karena keluargaku terdekat disana,”jelasnya.
Mengenai keputusannya untuk bercerai, orang tua Lusi seperti menyerahkan urusan itu padanya. Begitu juga dengan orang tua Herman. Jika itu keputusan terbaik mereka setuju saja.
“Kecewakah Lusi? “ Tidak menjadi masalah bagia saya,”ucapnya dengan tegar. “Dulu saya tidak berpikir panjang apa resiko pernikahan dengan kondisi seperti ini. Tapi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” tambahnya menenangkan diri.
Memang tak semuanya pernikahan di usia muda rawan perceraian. Tapi menurut Lusi ada baiknya dipikir masak-masak. “Berpijak pada pengalamanku sendiri sebaiknya mereka yang ingin menikah di usia muda dipikir dulu deh. Kesiapan mental dan materi juga dibutuhkan,”sarannya. Lusi tetap mengaku kegagalan rumah tanggatak perlu disesali terus menerus.
“Perasaan sedih itu pasti ada tapi kalau dibilang tidak juga karena selama ini meskipun sudah menikah tapi kami hidup terpisah. Mengenai untuk menikah lagi saya belum terpikir kearah sana apalagi masalah ini juga belum beres. Mungkin suatu saat nanti jika saaya telah menemukan pasangan hidup tidak menutup kemungkinan untuk menikah lagi. Jika saya telah resmi bercerai saya tidak akan terganggu dengan predikat janda,”cerita Lusi. Itu merupakan resiko dan saya tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu karena saya masih muda dan jalan hidup masih panjang,”tambahnya seraya menutup perbincangan.
Bebearapa saat kemudian Lusi telah kembali berbincang akrab dengan teman-temannya.

Posted by St. Andriyani :: 7:04 AM :: 4 comments

Post a Comment

---------------oOo---------------